(by Lawrence Auster is the author of Erasing America: The Politics of the Borderless Nation. He offers his traditionalist conservative perspective at View from the Right. by http://smoothstone.blogspot.com/2004/12/who-r Thursday, Mar. 20, 2008 at 7:05 AM)
Tentu anda semua maklum jika kalimat “Israel menduduki tanah Palestina” sudah sangat umum. Bahkan secara tidak langsung dinyatakan bahwa orang Palestina sesungguhnya adalah ‘orang Arab.’ Dari dulu, seolah-olah, orang yang tinggal di tanah yang disebut Palestina itu adalah muslim. Seolah-olah orang-orang Palestina sekarang adalah keturunan Filistin. Seolah-olah selama ini tidak pernah ada Bait Allah milik orang Yahudi di Yerusalem sejak 3000 tahun yang lalu. Seolah-olah Abraham, Ishak, Yakub leluhur orang Yahudi tidak pernah berada di tanah Kanaan yang disebut Palestina sekarang ini. Seolah-olah Israel merebut tanah dari orang Arab. Itulah hasil propaganda ‘Anti-Israel.’
Berikut ini adalah artikel oleh Lawrence Auster, yang meletakan dasar historis yang gamblang tentang masalah tersebut: Israel tidak pernah mengambil tanah dari orang Palestina, dan (sebenarnya) orang Palestina tidak punya klaim legal terhadap Yudea dan Samaria (West Bank) atau Gaza sekalipun. Perluas wawasan anda dengan membaca tulisan ini.
Artikel ini menyediakan anda fakta-fakta yang anda perlukan.
Ada semacam mitos yang tergantung sepanjang diskusi mengenai masalah Palestina: mitos bahwa tanah ini adalah tanah “Arab” yang diambil dari penduduk asli oleh orang Yahudi yang menyerbu dan menduduki. Apapun yang mungkin menjadi solusi kepada masalah Timur Tengah, marilah luruskan beberapa hal berikut:
- Dari sudut legal formal, orang Yahudi tidak mengambil Palestina dari orang-orang Arab; orang Yahudi mengambilnya dari orang Inggris, yang telah menjalankan otoritas kedaulatan di Palestina di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa selama 30 tahun sebelum deklarasi kemerdekaan Israel tahun 1948. Dan Inggris tidak menginginkan tanah itu kembali ke Inggris
- Jika anda menganggap Inggris adalah penyusup ilegal, okelah. Dalam hal ini, teritorial tanah Palestina bukanlah tanah Arab, melainkan tanah Turki, sebuah provinci kekaisaran Ottoman selama ratusan tahun sampai Inggris mengambilnya dari mereka selama perang yang disebut “Great War” tahun 1917. dan orang-orang Turki tidak menghendaki tanah itu dikembalikan.
- Jika anda menengokm ke belakang dalam sejarah orang-orang Turki jaman Ottoman, yang mengambil Palestina di tahun 1517, anda menemukannya bahwa tanah itu di bawah kekuasaan kekaisaran lain bukan penduduk asli di Palestina: yaitu orang-orang Mamluk, yang adalah campuran budak tentara Turki dan Circassia yang bermarkas di Mesir. Dan orang-orang Mamluk tidak pernah ada lagi, jadi mereka tidak dapat menginginkan tanah itu dikembalikan ke mereka.
Jadi mundur 800 tahun, tidak ada mata rantai yang jelas yang menjadikan status Israel atas tanah itu lebih rendah dari pemilik-pemilik sebelumnya. Jika kita mundur lagi:
- Orang-orang Mamluk, sudah disebut, yang di tahun 1250 mengambil Palestina dari:
- Dinasti Ayyubi, keturunan Saladin, pemimpin mulsim Kurdi yang di tahun 1187 mengambil Yerusalem dan sebagian besar Palestina dari:
- Pejuang-pejuang perang salib Kristen Eropah, yang di tahun 1099 menaklukkan Palestina dari
- Orang-orang Turki Seljuk, yang memerintah Palestina atas nama:
- Abasid, kalifah dari Bagdad, yang di tahun 750 mengambil alih kekuasaan Timur Dekat dari:
- Kalifah Damaskus Umayad, yang di tahun 661 mewarisi pengendalian tanah islam dari:
- Orang-orang Arab di tanah Arabia, yang di gelombang ekspansi pertama Islam menaklukkan Palestina dari:
- kerajaan Bizantin, yang menerima warisan penaklukkan kekaisaran Roma berupa tanah Palestina. Jadi mereka menerimanya dari:
- Orang-orang Roma, yang di tahun 63 SM mengambilnya dari:
- Kerajaan Yahudi terakhir, yang selama pemberontakan Makabean dari tahun 168 – 140 SM memenangkan pengendalian atas tanah itu dari tangan:
- Kerajaan Yunani, yang di bawah Alexander the Great di tahun 333 SM menaklukkan Timur Dekat dari:
- Kekaisaran Persia, yang di bawah Cyrus the Great di tahun 639 SM membebaskan Yerusalem dan Yehuda dari:
- Kekaisaran Babilonia, yang di bawah Nebukadnesar di tahun 586 SM, mrebut Yerusalem dan Yehuda dari:
- Orang-orang Yahudi, yang berarti orang-orang dari Kerajaan Yehuda, yang, diawal kejadiannya sebagai orang-orang Israel, menduduki tanah di abad 12 dan 13 SM, dari:
- Orang-orang Kanaan, yang telah mendiami tanah itu ribuan tahun sebelum mereka ditaklukkan oleh orang-orang Israel masa itu.
Sebagai saran jadinya, setiap klaim Arab atas kedaulatan yang didasarkan pada warisan pengendalian tanah secara historis, klaim itu lemah. Orang Arab bukan penduduk Asli Palestina, tetapi menduduki tanah Arab, yang disebut Arabia. Itulah rumah sesungguhnya orang Arab.
Teritorial yang mencakup negara-negara Arab di luar semenanjung Arab – termasuk Irak, Syria, Lebanon, Mesir, Tunisia dan Algeria, juga entitas yang secara formal sekarang disebut Otoritas Palestina, adalah aslinya bukan orang Arab yang kemudian ditaklukkan oleh Muslim Arab ketika mereka menyebar dari jazirah Arab di gelombang besar jihad di abad ke 7, mengalahkan dan mengubahkan agama dari jutaan orang Kristen dan Yahudi serta menghancurkan peradaban kuno dan peradaban yang sedang berkembang.
Sebelum tanah-tanah itu berwarna Kristen, tanah-tanah itu memiliki sejarah kuno. Firaun di Mesir, bukan orang Arab, bukan kerajaan Arab sepanjang 3000 tahun sejarahnya. Penegasan baru-baru ini oleh orang Arab Palestina bahwa mereka adalah keturunan orang Kanaan yang orang Ibrani (Israel) taklukkan di masa lalu, adalah tidak mungkin dan tidak memiliki dasar dan bukti dari sejarah arkeologi.
Tidak ada catatan bahwa orang Kanaan berhasil bertahan dari kehancuran di jaman kuno. Sejaran mencatat secara literal ratusan kelompok masyarakat kuno yang tidak ada lagi sekarang ini. Klaim Arab bahwa Arab adalah keturunan orang Kanaan adalah hasil temuan setelah tahun 1964 di mana PLO berdiri, kelompok yang sama yang hari ini menolak kenyataan bahwa pernah ada bait Allah ada di Yerusalem.
Sebelum tahun1964 tidak ada yang disebut orang Palestina, dan tidak ada orang ‘Palestina’ yang mengklaim sebagai orang Palestina: bangsa-bangsa Arab yang berusaha menguasai dan menghancurkan Israel di tahun 1948 merencanakan untuk membagi-bagi teritorial itu di antara mereka. Jadi ingatlah bahwa sebelum berdirinya negara Israel di tahun 1948, nama Palestina menunjuk kepada “Yahudi di Palestina”. Tidak pernah setelah Daud menaklukkan Yerusalem dan ‘Palestina’ orang Yahudi tidak ada di situ atau tidak hadir di situ. (Jadi, di masa lalu, tentunya pernah ada masa di mana orang-orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem dan di tanah Palstina, menangis karena tanah mereka diambil orang. Bukan orang Palestina sekarang yang menangis mengaku tanah mereka diambil orang Yahudi)
Bangsa-bangsa yang memiliki kontinuitas sempurna antara penduduk asli dan populasi masyarakat mereka sekarang hanyalah Iceland, sebagian China, dan beberapa pulau di Pacific. Kasus negara China rumit karena kenyataan bahwa peradaban besar China masa lalu telah menghapus sebagian besar masyarakat yang mendahului mereka, membuatnya sulit untuk erekonstruksi sampai sejauh mana proto-Chinese telah menggantikan orang-orang kuno di daerah tersebut.
Sejarah begitu suram dan tidak jelas tentang asal usul penduduk kuno. Jadi, ‘aboriginalisme’ – suatu proposisi bahwa semakin dekat keturunan kepada penduduk asli terotirial maka merekalah yang paling berhak memiliki – tidak bisa dipertahankan di dunia kini. (bayangkan, siapa di Indonesia yang berhak mengatakan ia penduduk asli, kecuali di Papua oleh orang Papua)
Jikapun dipaksakan, apakah bisa terjadi dewasa ini. Apakah peradaban akan jadi lebih baik jika tidak ada China, Jepang, Yunani, Roma, Perancis, Inggris, Irlandia, Amerika (dan Indonesia)?
Kembali ke Arab: saya tidak ada masalah dengan mengenali legitimasi dari kekuasaan Arab di Palestina ketika mereka menguasai Palestina, dari tahun 638 – 1099, suatu periode 461 tahun dari sejarah tanah itu selama 5000 tahun. Mereka mengambil Palestina melalui penaklukkan militer dan mereka kehilangan tanah Palestina karena peperangan juga, di tahun 1099 melawan pasukan perang salib. Tentu saja, pendudukan militer tidak serta merta menentukan siapa yang berhak berdaulat atas teritorial tertentu.
Jika ditanyakan, bukankah dapat dikatakan bahwa bukankah orang Arab berhak atas, jika bukan seluruh Israel, paling tidak West Bank, karena mereka adalah penduduk mayoritas di tanah tersebut sejak abad pertengahan sampai sekarang?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari lihat catatan sejarah. Sebelum tahun 1947, sebagaimana kita telah mendiskusikannya, Palestina dibawah pemerintahan Inggris yang memegang mandat Palestina, dengan tujuan utama, menurut Deklarasi Balfour, mendirikan tanah air Israel di Palestina. Di tahun 1924 Inggris membagi Mandat Palestina menjadi orang Arab di timur sungai Yordan, yang menjadi Kerajaan Trans Jordan, dan mengurangi mandat Palestina hanya di Barat sungai Yordan, yang didiami oleh Arab dan Yahudi. Kenyataan bahwa orang Arab dan yahudi tidak bisa hidup berdampingan, maka diperlukan dua negara. Pada waktu yang bersamaan, tidak ada batas alamiah yang membedakan kedua masyarakat tersebut, dalam arti sebagai cotnoh, Brenner Pass telah secara historis menandai pembagian Latin dan Eropah Jermabn. Sejak populasi Yahudi dikonsentrasikan dekat dengan pantai, maka negara Yahudi harus dimulai dari tepian pantai menuju ke daratan. Batasnya adalah tempat di mana negara yang isinya orang-orang Arab dimulai. Jika percakapan dimulai dengan dasar ini, kebanyakan oang yahudi akan menerima.
Keinginan orang Yahudi untuk kompromi atas teritorial ditunjukkan bukan hanya dengan penerimaan mereka atas rencana pembagian partisi PBB 1947, yang memberikan kepada mereka suatu negara dengan batas yang sulit dipertahankan, bahkan dengan penerimaan mereka atas Rencana partisi Peel Commission, yang memberikan kepada mereka hanya sebagian Galilea dan sepotong tipis tanah sepanjang pantai. Namun orang-orang Arab, menolak kedaulatan Yahudi atas Palestina sekalipun besarnya hanya seukuran perangko (ingatan ungkapan presiden Iran yang menginginkan Israel dihapuskan dari peta dunia), secara bersama-sama menolak rencana Peel 1937, dan sembilan tahun kemudian mereka dengan kekerasan menolak rencana partisi PBB.
Ketika orang-orang Arab menggempur dengan kekerasan agar negara Yahudi lenyap, mereka menerima akibatnya. Tahun 1948 dan 1967, mereka dikalahkan, ketika Yordania yang telah menganeksasi West Bank di tahun 1948 (tanpa keberatan dari Arab Palestina bahwa kedaulatan kebangsaan mereka telah dilanggar), menyerang Israel dari West Bank selama 6 hari perang sekalipun Israel telah meminta agar Yordania tidak mencampuri peperangan. Dalam usaha mempertahankan diri, Israel menaklukkan West Bank. Sehingga orang-orang Arab tidak memiliki dasar untuk komplain baik tentang keberadaan Israel (yang dicapai tahun 1948) atau tentang kedaulatan yang dimilikinya mulai dari tepian laut sampai ke sungai (yang dicapai di tahun 1967).
Orang-orang Arab telah meniupkan kabar kepada dunia selama beberapa dekade dengan protes keras mereka bahwa tanah mereka telah dicuri. Seorang mungin harus berpikir keras dan serius jika yang mengucapkannya adalah orang Tibet, yang secara diam-diam tanah mereka diklaim oleh China Komunis tahun 1950.
(Sebagian kecil tulisan Lawrence Auster bagian akhir saya tidak terjemahkan, saya anggap tulisan ini cukup untuk mencerdaskan kita tentang duduk perkara masalah Tanah Palestina. Dengan kemerdekaan mendapatkan informasi seharusnya setiap orang Kristen membaca tulisan ini. Tulisan ini tidak memperdebatkan legitimasi perang Israel melawan Hamas di awal tahun 2009).
GBU
























