by Esther Rustam, S. Psi

Apa yang Saudara  lihat pada gambar ini ? Ada yang bilang gambar seseorang yang sedang menarik tangan orang lain, ada yang bilang seseorang yang sedang memegang tali di bawah sinar rembulan, dll. Bagaimana saudara memandang gambar tersebut itulah yang disebut persepsi.  Dalam psikologi, PERSEPSI adalah kemampuan manusia untuk menginterpretasikan informasi yang ditangkap oleh mata, apa yang benar-benar saudara lihat.

Ketika saudara bekerja di kantor atau pelayanan di Gereja, saudara melihat sampah. Apa yang saudara lakukan, memungutnya lalu membuangnya ke tempat sampah atau membiarkannya. Saudara sudah lihat bahwa itu benar-benar sampah bukan dugaan, mengapa saudara tidak memungutnya ? Ternyata, dalam menentukan bagaimana stimulus (proses pengindraan terhadap obyek atau peristiwa) dipersepsikan, dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan yang paling dominan dari faktor psikologis itu adalah ekspektasi atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut ekspektansi yang sering diartikan dengan “pengharapan.” Apa yang diharapkan dengan mengambil sampah ? Jika saya bersedia untuk mengambil sampah itu, apa untungnya buat saya ? Kesediaan saudara untuk mencurahkan atau mengkontribusikan tenaga dan pikiran untuk suatu pekerjaan tertentu seperti mengambil sampah, itulah yang disebut dengan MOTIVASI.

Suasana yang motivatif sungguh dirindukan setiap orang apakah itu ketika berinteraksi dengan keluarga, teman terutama lingkungan kerja. Lingkungan kerja menjadi fokus yang lebih dibahas karena ada suatu tujuan atau ‘goal’ yang harus dicapai. Ada target, ada efek samping yang harus dieliminir sedemikian rupa. Karena itu peran motivasi sangat penting dalam bekerja dan motivasi itu sesungguhnya sudah ada dalam diri setiap orang. Jadi, suasana yang motivatif..sesungguhnya semua berperan untuk menciptakannya.

Dr. H. Noor Fuad, SE, MBA, MM, Ph.D., FLMI dalam bukunya Dasar-dasar Ketrampilan Manajerial, menyatakan untuk dapat mewujudkan suasana motivasi yang positif, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Bawahan harus merasa dihargai keberadaan dan eksistensinya.

2. Seorang pemimpin harus memiliki sifat keterbukaan, hangat dan ramah.

3. Adanya rasa dan perilaku saling menghormati.

4. Adanya upaya-upaya untuk saling memenuhi harapan masing-masing.

5. Adanya lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan

Point 1, 2 lebih diarahkan kepada peranan pemimpin sementara point 3, 4, 5 sudah lebih kepada fungsi kedua pihak, yaitu antara yang memimpin dan yang dipimpin. Ada banyak buku mengenai motivasi, tetapi yang menarik adalah sekalipun Dr. H. Noor Fuad memiliki gelar yang cukup banyak tetapi beliau menyatakan dalam 5 point. Saudara bisa analogikan dengan beberapa orang yang saudara temui yang memiliki gelar yang banyak, apakah umumnya menyederhanakan suatu topik atau malah mempersepsikannya dengan begitu bervariasi sehingga saudara semakin bingung ?

Ternyata, motivasi itu tidak begitu rumit, pemimpin terbuka, menghormati dan menghargai bawahan maka bawahan menjadi lebih termotivasi, pemimpin menyatakan apa kemauannya dan bawahan menyatakan apa kemauannya lalu dicari solusi yang memenuhi harapan masing-masing (win-win solution) dan diciptakan suasana yang senang, penuh canda, maka pemimpin dan bawahan akan sama-sama termotivasi. Sungguh ideal dan sungguh sangat menyenangkan.

Tetapi kenyataannya, apakah semudah itu menciptakan kondisi itu di dalam dunia kerja yang nyata ? Dalam dunia kerja sekuler saja situasi ini mengalami banyak hambatan. Padahal sudah jelas-jelas dalam struktur dia sebagai bawahan dan menerima salary (gaji) yang harusnya dia memberikan kontribusi yang lebih maksimal. Persis, seperti istilah yang sering diucapkan banyak orang..emangnya gua pikirin…??? kcian deh loe..!!! sepertinya situasi itu yang lebih sering tampil di depan mata. Bos mau marah bagaimanapun, bawahan diam saja, tetapi tetap bawahan melakukan kesalahan yang sama yang membuat bos tetap marah.

Nah, apakah kita yang sering 4 M (Menerima, Merenungkan, Melakukan, Membagikan) Firman Tuhan, melakukan kondisi yang sama dengan dunia sekuler dalam dunia pelayanan ? Jawabannya idealnya tidak, tetapi selalu saja ada “anak-anak nakal” dalam diri kita yang membuat kita sebagai pemimpin kurang terbuka, kurang menghargai staf dan para pelayan serta sebagai bawahan kita kurang menghormati pemimpin kita, kita terlalu berharap untuk pemimpin selalu memenuhi harapan kita sementara kita kurang berusaha untuk memenuhi harapannya sehingga situasi pelayanan seperti “bongkahan emas yang tertutup lumpur.” Pelayanan itu adalah emas yang tidak dapat diukur nilainya, ingatlah yang saudara layani itu sesungguhnya adalah TUHAN…”Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia..” (Kol 3, 23). Maka, berusahalah untuk tidak menutupi emas itu dengan lumpur atau sampah yaitu ”anak-anak nakal dalam diri kita.” Berusahalah,  untuk tidak menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan orang lain. Berusahalah untu berbuat baik, berbuat sesuatu yang berguna, yang menjadi berkat bagi orang lain. Itulah yang menyatakan kita sebagai Anak Tuhan, Anak Yang Sudah Menerima, Merenungkan, Melakukan dan Membagikan Firman Tuhan.

Kembali ke gambar di atas, kalau diibaratkan pelayanan itu adalah seperti gambar yang “belum selesai”..persepsi saudara terhadap pelayanan tersebut sangat mempengaruhi motivasi saudara untuk “menyelesaikan” pelayanan tersebut. Motivasi siapa yang saudara layani akan mempengaruhi sikap saudara. Kalau saudara melayani Tuhan maka berusahalah untuk langsung membuang “sampah”. Kata, sikap dan perlakuan yang kurang menyenangkan dari orang lain berusahalah untuk menjadikan itu sebagai sampah yang harus dibuang. Kalau saudara tidak sanggup maka datanglah membawa sampah itu kepada yang empunya pelayanan, yaitu Tuhan Yesus. Katakanlah setiap saudara merasa “disakiti”..Tuhan, berilah saya kekuatan untuk membuang jauh-jauh. Kalau saudara merasa adakalanya itu sulit maka berusahalah untuk memahami bahwa orang lainpun juga mengalami hal yang sama sehingga berusahalah untuk tidak menghakimi. Adalah lebih mudah memberi pendapat pada orang lain daripada jika kita sendiri yang mengalami. Kita semua sesungguhnya sama, perlu untuk terus dikuatkan. Sekalipun Seorang Hamba Tuhan yang sudah mempunyai jam terbang pelayanan yang tinggi, maka Diapun perlu kekuatan daripada orang-orang di sekelilingnya untuk dapat terbang seperti burung rajawali. Karena itu, marilah kita sama-sama berusaha saling menguatkan.

Mulailah setiap hari dengan berusaha memotivasi orang lain, dimulai dari keluarga, teman kerja, lingkungan di sekitar kita. Bahkan pemimpin kita sekalipun. Meminjam istilah Pdt. Budi Setiawan M. Div. apakah ayam atau telur..tergantung dari persepsi saudara. Apakah pemimpin yang harus memotivasi saudara ataukah saudara yang memotivasi pemimpin.

Seperti pada gambar di atas, kalau kita ibaratkan orang itu sebagai pemimpin, apakah saudara akan membiarkan tangannya terus “menggapai”…..yang terus menarik saudara untuk ikut sama-sama kerja di pelayanan. Yang terus memotivasi saudara untuk tetap semangat melayani ? Yang terus berdiri di bawah sinar rembulan sambil menunggu kapankah tali pelayanan itu dipegang sama-sama ? Jawabannya kembali kepada pilihan saudara. Saudaralah yang menentukan dan saudaralah yang memutuskan. Masukan-masukan yang saudara terima baik itu melalui yang saudara baca maupun yang dikatakan orang lain itu semua sangat tergantung pada saudara.

Menurut Suzette Hattingh, rahasia kehidupan doa yang dijawab adalah doa orang yang mau berdiri di celah-celah. Saudara tahu berdiri di celah-celah itu sangat tidak nyaman, posisinya saja berdiri, tidak duduk, posisi yang membutuhkan tenaga lebih ekstra, dibandingkan duduk. Sudah berdiri, tempatnya di celah-celah lagi…Tentunya kita tidak berharap bahwa kita harus berdiri di celah-celah dulu baru doa kita dijawab Tuhan. Tetapi kenyataan yang ada adalah memang seperti itu. Situasi yang nyaman seringkali membuat kita dalam zona aman dan tenang dan akhirnya tanpa action. Kita sering hanya mengatakan “I Have A Dream.”

Marilah kita pemimpin dan yang dipimpin sama-sama berusaha mewujudkan dalam kenyataan menjadikan pelayanan sebagai emas yang tidak dilapisi ‘lumpur atau sampah’. Biarlah kita tidak terlalu sering berkata saya memimpikan (I Have A Dream)…pemimpin yang baik, terbuka, semangat,  humoris dan sebagainya.  Lalu pemimpin juga sering berkata saya memimpikan (I Have A Dream).. jemaat yang mendukung saya, menerima saya apa adanya. Berusahalah untuk kita tidak sampai ditempatkan Tuhan berdiri di celah-celah agar doa kita dijawabnya. Marilah kita sama-sama mewujudkan mimpi itu dengan berusaha memperlengkapi kelemahan orang lain dengan kesempurnaan kita. Seringkali kita merasa sempurna dan orang lain begitu banyak kekurangan, maka berusahalah untuk yang terjadi di pelayanan kita masing-masing tidak cuma mimpi. Berusahalah mewujudkannya sekalipun banyak tantangan. Berusahalah memahami pemimpin, rekan sepelayanan, jemaat dengan berbagai keunikan yang Tuhan sudah ciptakan. Tidak ada satupun yang sempurna di dunia ini. Mari sama-sama kita membuang “sampah” yang menjadikan kita kurang termotivasi. Mari kita  mewujudkan  ekspektasi kita  dalam kenyataan dengan tetap memperhatikan ekspektasi pemimpin, rekan sepelayanan, jemaat. Berusahalah untuk tidak mengkaitkan dengan untung-rugi dalam pelayanan. Bangkitkan semangat kalau kamu bisa, saya pasti bisa dan bersama-sama kita pasti bisa. Sehingga tidak cuma mimpi kita akan menerima anugerah mahkota kerajaan Allah… Selamat Melayani. Tetap Semangat. God Bless.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)
Share This Post