I Kor. 13: 4 – 7

By : Esther Nurhayati, S. PSi

aa-1

Membaca Firman Tuhan yang tertulis dalam kitab ini, kita diperhadapkan pada suatu situasi yang sungguh menyenangkan bila itu benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Seorang teman bercerita mengenai hal-hal yang didapatkannya ketika menonton film “Salomo dan  Syeba.” Mungkin sudah mengalami revisi dari kisah yang tertulis di kitab I Raja-Raja 10. Tapi…dibalik semua cerita di film tersebut ia sangat terkesan dengan dua wanita yang karena kasihnya kepada Salomo rela melakukan hal-hal yang sungguh sulit diterima akal sehat.

Yang pertama adalah seorang wanita yang bernama Abisag, karena kasihnya kepada Salomo  dengan sabar ia bertukarpikiran dengan Salomo, bila Salomo melakukan tindakan yang menyimpang, dengan murah hati ia menolong Salomo, bila Salomo dalam kesulitan dan ia juga menyarankan Salomo untuk memenuhi undangan Syeba ketika Salomo ragu-ragu untuk pergi, kasih menutupi rasa cemburunya. Ketika Tuhan marah karena Salomo menyembah berhala maka di film tersebut dikisahkan Abisag datang ke Bait Suci memohon kepada Tuhan agar murka Tuhan dialihkan padanya, ia rela mati demi orang yang dikasihinya, Salomo selamat dari murka Tuhan dan Tuhan mengabulkan doanya.

Yang kedua adalah Ratu Syeba yang tadinya memiliki motivasi yang kurang baik terhadap  Salomo, niatnya adalah untuk menghancurkan Salomo, dia juga yang mengajak Salomo untuk meninggalkan Tuhan. Tetapi ketika maut mengintai orang yang dikasihinya, ia tanpa ragu-ragu datang ke tempat yang paling tidak disukainya, melakukan tindakan yang paling sulit dilakukannya  (berdoa) bahkan ber-nazar bahwa ia akan pergi meninggalkan orang yang dikasihinya. Ia juga berjanji membawa rakyatnya untuk meninggalkan berhala yang selama ini mereka sembah dan hanya mepercayai Tuhan, Allah dari orang yang dikasihinya. Tuhan mengabulkan doa Ratu Syeba dan Ratu syeba juga melakukan janjinya, ia pergi meninggalkan orang yang dikasihinya.

Bila dikaitkan dengan masa sekarang ini agaknya bukanlah hal yang mudah menemukan orang seperti  Abisag dan Ratu Syeba, yang dengan tulus melakukan hal yang menyenangkan bagi orang lain dan merugikan dirinya sendiri. Kalau ada orang seperti itu, mungkin lingkungan sudah menganggapnya sebagai orang yang ‘aneh.’

Berbuat baik saja, pada masa sekarang ini sudah diartikan mempunyai maksud tersendiri dibalik perbuatannya. Jarang orang menerima dengan tulus dan lalu mendoakan orang tersebut, tetapi berbagai praduga langsung muncul dipikiran orang yang menerima kebaikan tersebut. Lalu orang yang berbuat baik tersebutpun akhirnya merasa lebih baik bersikap “biasa” kepada semua orang.

Cerita seorang Samaria yang baik hati agaknya sulit untuk diterapkan langsung dalam kenyataan sehari-hari. Ketika kita melihat orang yang membutuhkan uluran tangan kita, kita sering bersikap menghindarinya dengan pemikiran tidak mau menambah masalah, atau terlibat masalah dengan orang lain. Hidup ini sudah susah, karena itu untuk apa ditambah lagi, begitu sering orang-orang berkomentar. Padahal saat itu kita baru saja mendengar khotbah tentang kasih. Apa artinya semua kemampuan yang kita miliki kalau kasih kita semakin menipis ? Apa artinya kita sering ke Gereja, ikut KKR, ikut berbagai aktivitas Gereja dan sebagainya yang berhubungan dengan kegiatan rohani tetapi ketika kita melihat   seseorang  melakukan kesalahan, kita lantas menghakiminya, ketika orang lain meminta bantuan kita, kita langsung menolaknya meskipun kita sebenarnya mampu melakukannya. Apa bedanya dengan orang  lain ? Memang sulit menemukan figur seperti “Suster Theresia” tetapi kalau kita “mau” melakukannya, maka sebenarnya kita sudah menjadi pelaku-pelaku firman seperti yang tertulis pada Kitab 1 Korintus 13 ini.

Sulit memang, tetapi apa salahnya kita mulai mencoba. Terapkanlah prinsip kasih pertama kali di keluarga kecil kita, kasih kepada suami/istri, anak, lalu ke keluarga besar seperti orangtua, adik, kakak, paman dan sebagainya. Baru diperluas dengan lingkungan kerja, pergaulan dan sebagainya. Ketika kita menghadapi tantangan, berdoalah langsung pada-Nya memohon kekuatan. Tuhan tidak mencobai umat-Nya di luar batas kemampuannya. Yang penting kita berdoa dan berusaha.

Ingatlah selalu kata-kata bahwa kasih itu memerlukan pengorbanan, kalau kita mau dan memohon kekuatan-Nya maka kita akan semakin saling mengasihi. Jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan maka wujudkanlah kasih itu kepada sesama kita. Amin. God Bless.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share This Post