Oleh: Mary Jop Sharp, Kamis, 14 Februari 2008/bs

aa-53

Dalam argumentasi melawan teori “Zeitheist, the Movie,” saya telah menyajikan 3 bagian seri tayangan berhubungan dengan kultur Yahudi abad pertama di mana kekristenan muncul. Artikel ini adalah bagian terakhir dari seri artikel tersebut. Meskipun saya belum secara langsung membantah poin-poin spesifik di film itu dalam tulisan-tulisan ini, saya telah membangun kasus sejarah untuk menunjukkan bahwa Yudaisme monoteistik abad pertama tidaklah secara doktrinal dipengaruhi oleh penyembahan budaya dari dewa-dewi kafir.

Pemujaan kepada Yesus muncul dari Monoteisme Yahudi

Pemujaan orang Kristen yang paling awal harus dimengerti sebagai perluasan dari monoteisme Yahudi abad pertama. Dalam 1 Tesalonika 1, Paulus memuji gereja di Tesalonika karena iman gereja yang patut dicontoh dan mendiskusikan pertobatan orang-orang percaya dari penyembahan berhala kafir untuk “kemudian melayani Allah yang hidup dan benar, dan untuk menantikan AnakNya dari sorga, yang telah dibangkitkan dari kematian – Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang” (ayat 9b-10).

Pembedaan menyolok ini antara ilah-ilah kafir dan satu-satunya Allah yang benar (juga dalam kaitan dengan Yesus) terlihat juga dalam 1 Kor. 8. Dalam 1 Kor. 8, Paulus mengingatkan orang percaya agar jangan sengaja memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala jika mereka sudah diberitahukan oleh orang lain. Menurut Hurtado, “Paulus sedang menunjuk secara tegas perbedaan tajam dari lingkungan politeisme kafir dan posisi monoteistik yang khusus; lihatlah pada bahasa yang digunakan ‘berhala-berhala’ melawan ‘Allah yang hidup dan benar”, Paulus menggunakan istilah, eidwlothyta, yang berarti “hal-hal yang dipersembahkan kepada berhala,” yang jelasnya adalah suatu persembahan khusus pemujaan. Penolakan terhadap seluruh ilah-ilah lain sejalan dengan eksklusifisme Judaisme abad pertama.

Dalam 1 Kor. 10, Paulus lebih lanjut menunjukkan eksklusifitas Judaisme dengan menasehati orang percaya untuk “menjauhkan diri dari penyembahan berhala.” Bahasa Paulus memakai bahasa yang lebih keras sebagai serangan kepada politeisme ilah-ilah Romawi. Paulus membandingkan tindakan mengambil bagian dalam ritual kafir sebagai ‘mengambil bagian dengan roh jahat.” Paulus secara empatik meminta agar seorang percaya yang mengambil bagian dalam minum dari cawan Tuhan, jangan minum dari cawan roh-roh jahat. Secara jelas, Paulus disini menunjukkan, bahwa sekalipun ia dibesarkan dalam kultur Tarsus yang politeistik, dan menyadari adanya budaya agama misteri masa itu, ia secara sungguh-sungguh menolak untuk mengadopsi atau mengijinkan praktek kafir masuk dalam pandangan monoteistiknya tentang Allah, atau bersekutu dengan hal-hal itu sekalipun. “Secara esensial Paulus mengarahakan para petobatnya untuk menjauhkan diri dari berbagai aktifitas dan praktek kekafiran, dan untuk menjelaskan itu ia menggunakan istilah-istilah yang keras.

Kondisi di Gereja Awal: Ritual, Hukum dan Paulus

Gereja mula-mula kelihatannya bergumul dalam hal ritual-ritual (termasuk beberapa ajaran tentang bait Allah), kebiasaan-kebiasaan, dan tradisi lain dari Yudaisme mereka. Dalam KPR 21, berita tentang kotbah Paulus telah mencapai gereja di Yerusalem. Laporan atas misi Paulus adalah bahwa ia telah menuntun orang Yahudi yang bertobat pada ajaran yang salah dengan mengatakan bahwa  mereka tidak perlu lagi memelihara ritual Yahudi dalam ketaatan kepada Hukum Torat. Ketika Paulus tiba di Yerusalem, Yakobus dan saudara-saudara lainnya meminta Paulus menjawab apakah benar demikian. Saudara-saudara itu menuntut agar Paulus menjalankan ujian pengudusan di bait Allah karena kecurigaan tersebut dan menjalankan 4 sumpah pertobatan.

Paulus menerima tuntutan mereka, namun demikian ketika sejumlah orang dari Diaspora melihat Paulus dalam bait Allah, merekamenjadi gusar dan mencoba untuk mencelakainya karena ia: “diduga mengagitasi mawalan Torat dan ajaran Bait Allah, sehingga, ia mengkotbahkan pemurtadan kepada hukum Torat di kalangan orang yahudi dan karena ia telah membawa serta seorang yang tidak bersunat kedalam bait Allah.” Suatu lingkungan ritualistik yang eksklusif jelas ditunjukkan pada bagian ini, juga dikalangan oang Kristen sebagaimana ditunjukkan oleh permintaan Yakobus tentang penjelasan atas ‘penyimpangan’ ajaran Paulus terhadap ritual Hukum Torat. Jelasnya, orang percaya di awalnya masih mengidentifikasikan diri dengan ritual dan praktek Yudaisme.

aa-52

Lebih lanjut, dalam pasal kedua dari kitab Galatia, Paulus mengkonfrontasi Petrus karena kemunafikkannya dalam hal Yahudi versus orang percaya non-Yahudi. Tuduhan Paulus didasarkan pada tindakan Petrus makan bersama orang non-Yahudi dan kemudian menyingkir dari mereka ketika saudara-saudara Yahudi utusan Yakobus tiba. Kata yang digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan Petrus adalah kategnwosmenos yang diterjemahkan “jelas salah”. Masalah utamanya adalah kemungkinan besar kesetiaan Petrus tentang makanan orang Yahudi yang melarang interaksi sosial antara Yahudi dan Kafir. Dalam bagian ini, lagi, kita punya contoh tentang seorang percaya bergumul dengan soal-soal yang muncul dari kesetiaan mereka kepada iman Yahudi. Sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya, iman yahudi abad pertama terkait erat dengan ajaran tentang satu-satunya Allah yang benar dan melarang praktek dewa-dewi kafir. Sehingga, adalah tidak benar argumentasi yang berkata bahwa orang-orang Yahudi ini telah mengijinkan agama kafir Yunani mempengaruhi formasi ajaran mereka tentang Kristus .

Konklusi

dari bukti sejarah, sebuah gambaran tentang Judaisme abad pertama muncul yang adalah sangat monoteistik dan, menurut ajaran intinya, tidak terpengaruh oleh budaya sekitarnya yang bergaya Yunani. Sikap terpisah orang Yahudi dicatat dalam Alkitab, praktek keagamaan mereka dan dalam tulisan-tulisan orang asing. Muncul dari Yudaisme abad pertama adalah murid-murid Kristus yang pertama, yang kemudian menjadi pemimpin-pemimpin dari iman yang masih baru ini. Para pemimpin ini membuktikan kesetiaan mereka kepada monoteistik Judaisme dalam tulisan-tulisan mereka (Gal.1, 1 Kor. 8,10; 1 Tesalonika) dan dalam pergumulan mereka untuk memutuskan apakah mereka akan tetap memelihara atau melepaskan diri dari ritual Yahudi yang berkaitan dengan Tirat dan bait Allah (KPR 21,22; Gal 2). Mereka bukanlah orang-orang yang telah mengadaptasi agama misteri kafir untuk memuja Yesus Kristus dalam figur dewa kafir atau ‘membentuk’ Yesus agar sama dengan dewa yang mati dan bangkit.

Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang berkutat dengan monoteistik eksklusif masa lalu mereka, sementara memahami Yesus dalam kerangka tentang satu-satunya Allah yang benar; hanya Dia yang layak atas penyembahan. Sebagaimana dinyatakan oleh Joan E. Taylor, dalam artikelnya, The Phenomenon of Early Jewish-Christianity: Reality or Scholarly Invention?, “Orang Kristen yahudi di abad pertama tidak pernah menganggap diri mereka mengkombinasikan dua agama, karena mereka tidak pernah menerima kekristenan lain selain yang muncul dari Judaisme.”

Jadi, pengaruh dari Helenisme Romawi, sekalipun itu merupakan budaya realita, pastinya, tidak pernah menyentuh kebenaran inti dari Yudaisme atau kekristenan: yaitu monoteisme.

aa-54

Mary J. Sharp

Sumber: http://confidentchristianity.blogspot.com/2008/02/monotheistic-judaism-of-first-century.html

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share This Post