aa-91

Muhammad Mahfud MD dalam sebuah tayangan di Q-tv, mengungkapkan sesuatu yang menarik. Acaranya sendiri seperti semacam kata sambutan, tetapi isinya sangat perlu didalami. Karena problem kejujuran moral menjadi problem utama bangsa kita. Jujur dengan diri sendiri, jujur kepada orang lain, apalagi jujur kepada Tuhan.

Mahfud mengatakan bahwa di Indonesia orang berlindung pada hukum formal tetapi mengabaikan moral. Misalnya seorang pejabat ‘tertangkap basah’ melakukan tindak korupsi. Ia berani dengan lantang mengatakan bahwa selama ia belum terbukti di pengadilan maka ia tidak mau dikatakan bersalah, atau perlu mengakui andilnya, atau malah mengaku sendiri kesalahan dan bertanggung jawab. Kalimat efektif mereka biasanya begini menurut Mahfud, “Buktikan jika saya bersalah!”. Jika dugaan atas kesalahannya begitu gamblang, maka tantangan pembuktian di pengadilan hanyalah menunda kejatuhan saja. Tapi banyak yang memilih demikian.

Jadi anda melihat orang yang terlibat tidak merasa bersalah, orang yang bersalah tidak memiliki muka bersalah, terdakwa atau tersangka tetap pada posisi dan jabatan, dsb.

Ini yang membedakan sikap tahanan kelas atas dan kelas bawah. Tahanan kelas atas biasanya masih mendongakkan kepala dan masih bersikap sebagai orang yang tidak bersalah. Masalah bahwa ia kemudian baru mengakuinya di persidangan itu soal lain, begitu kata mereka. Jadi sudah tidak ada moral lagi di mana orang tanpa perlu mendapat teguran hukum atau teguran formal sudah sadar sendiri atas kesalahannya dan kekeliruannya dimana.

Hukum formal dipakai untuk melindungi kejahatannya.

Orang merasa lebih baik berteriak kuat seolah-olah ia benar, membohongi publik dengan kata-kata, sikap dan apa saja, mempertahankan posisi, menyerang balik terutama untuk membuat publik mengambang dan tidak memiliki posisi. Orang memilih untu berbuat lebih jahat supaya kelihatan baik. Tetapi setelah itu, hanya kehancuran diri pribadi, keluarga dan karir yang akan dilihatnya. Dalam bahasa kitab suci, “pohon dikenali dari buahnya”, begitulah kata Yesus. Anda bisa membohongi orang lain dengan mengatakan pohon ini bukan pohon mangga. Tetapi waktu dan kenyataan ketika pohon itu berbuah, ternyata mangga, maka kita menghancurkan diri sendiri.

Saya teringat dengan sebuah tulisan di toilet sebuah gedung perkataan berikut dalam bahasa Inggris:

“I prayed for justice, then remembered myself, then I asked for mercy.”

Artinya, “Saya berdoa untuk keadilan, lalu saya mengingat diri saya sendiri, lalu saya memohon belas kasihan!”.

Inilah potret keadaan individu kita. Seharusnya kita kembali kepada nilai moral kita sehingga problem bangsa cepat terselesaikan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share This Post