ANNOUNCEMENT (7)
AoG CWS KGP MINISTRIES (3)
ARTICLES (585)
BERITA DUKA (12)
BUSINESS & MANAGEMENT (50)
CellGroup (9)
CONTEMPORARY THEOLOGICAL ISSUES (21)
GiCC (4)
Joshua-Caleb's Ministry (1)
LIVING WATER (37)
MARTYRS' STORIES (1)
Mission (18)
PASTOR's NOTE (25)
PRAISE AND WORSHIP (20)
SERMON OUTLINE (2)
Social (8)
Sunday School (61)
Women's Ministry (5)
Youth CLUB (51)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
10 Jun, 2009
ARTICLES
posted by Pdt. Budi Setiawan, M.Div
Manohara dan ‘Ambalat’ punya urusan yang berbeda, yang satu pribadi sedangkan satunya adalah bangsa. Keduanya berususan dengan pihak yang sama yaitu Malaysia. Tapi dalam hal leiannya juga keduanya sama, yaitu keduanya telah diremehkan!
Pengakuan Manohara kemarin di televisi dengan membeberkan bukti yang selama ini dinanti-nantikan, yaitu hasil visum, maka dokter visum yang turut mengomentari berkata bahwa memang Manohara mengalami tindakan kekerasan fisik yang menimbulkan luka serius, misalnya disilet di beberapa bagian baik dada, dan bagian tubuh di belakang, di bagian paha.
Jadi makin kuatlah posisi Manohara untuk membawa kasus ini kepada publik. Untuk situasi sekarang ini, lebih menguntungkan Manohara dan keluarganya untuk tetap menggunakan media sebagai alat bantu mengungkap kasusnya. Media adalah cara terbaik yang bisa dipakai untuk memberi tekanan kepada pihak Malaysia sementara upaya hukum lintas negara masih dicarikan jalan.
Pihak keluarga di Malaysia bisa saja memasang foto-foto yang menampilkan suasana ‘harmonis’ Manohara dan suaminya, yang sulit dibantah adalah hasil visum. Hasil visum yang valid dan mengandung ‘kekerasan yang telah terjadi’ sebaiknya dibuka kepada publik dulu sebelum diserahkan kepada pihak berwewenang di Malaysia.
Memang sulit kata beberapa advokat kondang, tetapi mesti dicarikan jalan supaya pihak Malaysia bisa menjalankan hukum yang seharusnya kepada pihak yang bersalah.
Paling tidak selama di Malaysia, orang yang bernama Manohara tidak pernah membuat kesulitan bagi keluarga sang suami atau bangsa Malaysia. Ia bukan orang yang ‘tidak dikehendaki’ karena perilaku dan sifat. Jika Manohara adalah seorang yang menimbulkan keresahan dengan bukti sifat dan perilaku yang tidak pada tempatnya, tidak memiliki sejarah konflik dengan orang-orang lain, maka Manohara layak untuk penguatan perlakuan adil dari hukum yang berlaku baik Malaysia maupun Indonesia.
Model penyiksaan seperti ini hanya terjadi pada kasus kelainan jiwa dari pelakunya.
Publik Malaysia harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan sekaligus usaha ini akan menyadarkan pihak Malaysia tentang pandangan mereka sendiri terhadap Indonesia. Mungkin karena Indonesia terkenal sebagai negeri pengekspor TKI dan asap, maka keberadaan bangsa kita dipandang sebelah mata. Keagamaan sebuah bangsa, tidak menjamin kesadaran perilaku HAM-nya.
Orang asing di Indonesia lebih beruntung. Bagaimanapun di negeri ini, jika disebut ‘orang asing’ kultur kita, kultur kebangsaan kita adalah menghargai orang ‘asing’. Kultur kita telah memoles hidup keagamaan kita sehingga tampil lebih ramah bagi orang lain. Amerika membutuhkan ratusan tahun untuk menjadikan bangsanya bertata krama dan menghargai sesama. Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah. Ya itulah, saking ramahnya kita kurang menunjukkan kekuatan kita.
Kasus Ambalat di mana kapal perang Malaysia secara sengaja memprovokasi Indonesia, mungkin sebaiknya sekali-sekali ditembak dulu dalam pengusiran supaya tahu bahwa Indonesia tidak main-main. Jangan takut bahwa makin menegangnya hubungan Indonesia Malaysia akan berakibat pada pemulangan TKI ke tanah air. Cepat atau lambat TKI akan dipulangkan, mengingat policy mereka. Mereka sudah secara teratur memulangkan TKI, supaya ‘potensi huru-hara’ jika Malaysia dan Indonesia tegang, akan bisa dikendalikan. Hubungan tenaga kerja sebenarnya hubungan yang saling menguntungkan. Jika hari ini seluruh tenaga kerja Indonesia dipulangkan, negeri itu akan kelabakan juga.
Coba bayangkan kasus klaim Malaysia terhadap kebudayaan, kasus perlakuan terhadap TKI, kasus pengambilan beberapa pulau yang disengketakan, Indonesia sebesar ini tidak mampu berbuat banyak. Kalau bandingannya dengan cerita kitab suci, seperti cerita Esau dan Yakub. Esau sudah kehilangan hak kesulungannya, jadi ia dibohongi beberapa kali oleh Yakub. Sekarang, kondisi Indonesia sudah bukan posisi yang harus dihargai lagi mungkin menurut pihak Malaysia. Jadi, Indonesia seperti Esau saja.
Indonesia harus lebih tegas dalam kedua hal ini! Tidak usah malu untuk intervensi dalam kasus Manohara seolah-olah kasus ini hanya kasus pribadi! Pernyataan Manohara tentang orang Malaysia yang pernah berkata bahwa wanita Indonesia mudah dibeli harus diseriusi oleh Pemerintah Indonesia, karena di situlah terletak perlakuan Malaysia terhadap TKI yang jumlahnya ratusan ribu di Malaysia.
Selama posisi moral, perilaku pribadi yang bersangkutan baik saat itu maupun sejarah hubungan dengan orang lain, perilakunya di negeri jiran, tujuan mengusahakan keadilan, adalah baik dan benar, maka ia layak untuk mengusahakan keadilan. Jika tidak, maka sebaliknya akan terjadi, kita membuka aib kita sendiri.
Semoga Indonsia makin tegas dan berwibawa!
Copyright © AoG CWS Kelapa Gading