aa-671aa-661aa-681

Pemilihan Presiden di bulan yang akan datang bakal seru! Bagaimana tidak, kampanye di belakang layar yang kita juga tidak tahu siapa dalangnya, meniupkan sejumlah isu berbau SARA tentang semua calon presiden. Diantaranya adalah adanya dugaan kontrak-kontrak politik tertentu yang berpotensi merugikan kelompok-kelompok masyarakat yang ada, baik dari segi agama, budaya dan ekonomi.

Black campaign yang ditujukan untuk mempreteli kekuatan sebuah koalisi sering terjadi dengan cara yang sangat berani. Mulai dari iklan yang menyerang pihak lain, spanduk yang menunjukkan kelemahan pihak lain atau iklan untuk secara sengaja menjatuhkan martabat lawan, SMS yang berisi berbagai tuduhan dan dugaan kontrak politik, pernyataan-pernyataan terbuka, keberpihakkan kepada kelompok tertentu, penggunaan musibah untuk menarik simpati. Pokoknya apa saja dapat digunakan.

Yang paling nyata mempengaruhi dan menyentuh masyarakat adalah SMS. Berita SMS sampai ke HP seseorang secara personal dengan berita yang jarang mau diverifikasi apakah benar atau tidak. Berita SMS cenderung lebih mudah ‘menyesatkan’ penerimanya karena penyampaiannya berita tidak bisa diamati seperti jika anda berbicara. Jika anda berbicara anda dapat diamati apakah ucapan anda benar atau tidak. Tetapi berita SMS hampir kebanyakan dianggap sebagai benar isinya.

Di antara bunyi SMS yang banyak beredar misalnya, bahwa calon presiden dan wakil presiden SBY dan Boediono akan meneken kontrak politik dengan partai fundamentalis keagamaan dalam hal berbagai peraturan yang bernuansa agama. Coba anda bayangkan komponen pendukung SBY – Boediono. Mereka adalah partai-partai berbasis agama. Dengan demikian pencitraan SBY-Boediono lebih diarahkan kepada citra keagamaan. Dengan cara begitu maka dapat dipastikan bahwa minoritas negeri ini akan mengalihkan suara mereka ke calon lain. Bagi minoritas, memilih SBY bakal dianggap ebagai tindakan ‘bunuh diri’ karena jika benar SBY akan membuat kontrak politik seperti demikian, berarti korbannya jelas adalah minoritas.

Jika anda bertanya benarkah demikian adanya, sudah pasti tidak benar! Walaupun tidak dapat dihindari pandangan bahwa selama pemerintahan SBY-JK, berbagai peraturan bernuansa agama bermunculan dengan begitu subur. Jelas ini menguatirkan minoritas yang sudah merasakan berbagai perlakuan dan tekanan-tekanan. SBY bisa dianggap tidak peka terhadap kemutlakkan kebangsaan, NKRI dan UUD 45 yang selalu dijadikan pelindung bagi minoritas di negeri ini. Anda bisa tidak setuju jika dikatakan minoritas, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa dimana hak kelompok kecil diabaikan, maka minoritas itu sesungguhnya memang ada. Pihak provokator tahu persis apa yang dikuatirkan orang.

Boediono sudah diterpa tuduhan akan menerapkan ekonomi neo-liberalisme. Isu ini walaupun cukup kencang diutarakan, tetapi tidak terlalu kuat gaungnya.

Megawati dipermasalahkan dari kemampuannya. Ini adalah penunjukkan yang langsung ditujukan kepada kelemahannya. Dengan kelemahan itu ia dianggap tidak layak menjadi presiden. Apalagi jika SMS yang datang menyebutkan tentang bagaimana Megawati menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di depan umum dalam berbagai kesempatan sosialisasi diri kepada masyarakat.

Prabowo diterpa isu HAM. Dengan mengungkit isu masa lalu maka jelas posisi Prabowo mulai tergerus secara perlahan. Bagaimanapun keraguan orang masih ada, apakah jika mereka yang dianggap punya masalah dengan HAM di masa lalu akan benar-benar bisa memimpin dengan arif dan bijaksana? Masih pertanyaan juga. Tetapi mengapa hal itu ditiupkan orang belakangan ini, jelas tujuannya!

Soal JK-Wiranto, SMS yang beredar kurang lebih sama. Soal kontrak politik dengan kaum fundamentalis, bahkan diduga akan benar-benar menerapkan syariah di negeri ini. Berita ini masih harus diverifikasi kebenarannya. Belum lagi soal korupsi yang akan terus merajalela, persoalan partai lama yang terlibat dalam ‘kerusakan’ bangsa (begitu bahasa anak-anak muda), dsb.

Wiranto sama dengan Prabowo, dipermasalahkan soal masa lalu mereka sebagai tentara. Isu HAM menjadi inti serangan.

Nah selain adanya orang yang iseng semua ini, yang paling diuntungkan adalah provider-provider. Apakah mereka turut bermain untuk menimbulkan isu hangat supaya penyebaran SMS gencar dan menguntungkan, walahualam!

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share This Post