a-212

Pemilihan sudah selesai, Ahmadinejad terpilih lagi. Tetapi baru kali ini Iran diguncang begitu hebat dengan demonstrasi generasi muda yang menuduh pemerintah mereka telah memanipulasi hasil pemilu mereka. Negeri yang selama ini kelihatan bersatu untuk sebuah pokok “melawan Amerika dan antek-anteknya” tiba-tiba memperlihatkan sisi lain yang diluar dugaan. Negeri itu seperti terbelah sementara waktu. Kaum Muda yang disumbat aspirasinya karena tidak bisa mengawasi pemilu secara langsung, sebagian besar jalur internet diblokir oleh pemerintah Iran, turun ke jalan lalu mulai menunjukkan kemarahan mereka.

Negeri Iran yang sangat agamis dan dibawah otoritas para pemimpin karismatik dalam beberapa hari ini menunjukkan ciri ‘demokratis’nya walaupun dihambat. Sebagian yang merasa ‘dibohongi’ menuntut penjelasan dan pemeriksaan. Mereka jelas menuntut perubahan di negeri mereka. Mereka tidak ingin negeri mereka menjadi negeri yang terus menerus berada dalam ketegangan hubungan dengan berbagai pihak.

Bagaimanapun sejak Ahmadinejad memimpin, negeri mereka populer di antara mereka yang sangat membnci Amerika, tetapi bukannya tanpa konsekuensi. Negeri itu mengalami isolasi. Program nuklir Iran memicu desakan berbagai pihak agar menakan Iran guna memaksanya untuk menghentikan dugaan pengembangan uranium yang bisa dipakai untuk bom nuklir. Peristiwa peluncuran balistik Korea Utara dan pengakuan Korut bahwa mereka siap mengembangkan lebih banyak persenjataan nuklir, membuak mata banyak pihak bahwa kebohongan pengakuan mereka tahun 2002 bahwa mereka telah menghentikan program persenjataan nuklir mereka, dapat terjadi kepada Iran. Inilah yang menguatirkan banyak pihak. sebuah negara ternyata dapat berbohong.

Pernyataan-pernyataan seorang Kepala Negara, jika bukan dalam kondisi perang, sebaiknya bukanlah pernyataan-pernyataan yang membangkitkan provokasi kebencian dan permusuhan. Seorang Kepala Negara bukan mewakili agama dan dirinya sendiri. Ia mewakili seluruh kepentingan negeri dan rakyat. Ia berbicara atas nama rakyat. Dapatkah anda membayangkan, Ahmadinejad dapat memasuki Amerika untuk berbicara di PBB, tetapi benarkah seorang Amerika dapat berjalan di Iran dengan kebebasan yang sama, saya rasa tidak! Begitulah prinsip resiprokal jika tidak bekerja. Kita menjadi buta dengan mencari kesalahan orang, tetapi justru kesalahan kita sendiri tidak bisa kita lihat!

Kebebasan seorang Kepala Negara mengungkapkan ‘kemarahan dan kebencian’ jika mau jujur ditelisik, seharusnya sejalan dengan kebebasan yang dimiliki rakyatnya untuk mengungkapkan ketidak setujuan.

Memang segala sesuatu berada dibawah payung ‘kepentingan’. Rakyat diprovokasi untuk memperoleh dukungan. Emosi rakyat adalah makanan empuk bagi seorang yang ‘tega’ menggunakan untuk kepentingannya sendiri. Penderitaan Palestina telah menjadi alat politik di berbagai negara untuk kepentingan partai dan kelompok. Adakah yang benar-benar membela kepentingan Palestina? Belum kelihatan! Yang sungguh-sungguh membela kepentingan Palestina hanyalah rakyat palestina sendiri.

Sedangkan pengunaan isu Palstina di luar Palestina, hanyalah demi kepentingan-kepentingan luar Palestina! Tidak heran jika orang Palstina sendiri tidak merasa dirinya dibela. Ketika Ahmadinejad menyatakan agar Israel dihapus dari peta dunia, Mahmood Abas-lah yang bereaksi sangat gusar atas pernyataan Ahmadinejad. Mengapa? Karena pernyataan itu tidak membawa Palestina lebih dekat kepada perdamaian, melainkan menambah jauh. Pernyataan itu hanya berguna untuk Ahmadinejad untuk memperoleh dukungan luas atas tindakan politik negaranya. Pernyataannya membangkitkan solidaritas muslim dunia, tetapi tidak ada kaitannya dengan perdamaian Palestina.

Hanya nurani yang satu kali akan berdiri dan menghakimi semua orang.

Bagaimanapun, masih lebih baik Kepala Negara kita. Ia santun dalam menyampaikan pokok-pokok pikirannya. Jarang saya lihat Kepala Negara kita menggunakan isu-isu peka lokal, regional dan internasional untuk kepentingan pribadi dan partainya. Dalam beberapa hal, ia masih lebih jujur. Semoga negeri kita kembali kepada kebudayaan dasar kita sendiri. Jangan pernah bermimpi untuk menjadi seperti Iran atau Afghanistan. Jika masyarakat sungguh-sungguh dibuka matanya untuk melihat apa yang sebenarnya diterapkan di  negeri seperti Iran dan Afghanistan, mungkin masyarakat akan tetap memilih menjadi diri sendiri. Negeri kita sudah banyak dirusak oleh berbagai kepentingan atas nama agama, penderitaan orang lain, visi regional dsb. Betul juga Megawati mengatakan, negeri kita kurang percaya diri!

Kita harus bisa menjadi diri sendiri dengan budaya kita sendiri. Mereka yang ingin mengubah negeri ini menjadi seperti negeri lain, dikuasai oleh kepentingan yang bukan mewakili negeri ini. Kita harus menyadarinya!

Membantu berdirinya Palestina berdampingan dengan Israel adalah keinginan banyak orang dan keinginan kita.  Semoga jalan menuju ke sana semakin dekat!

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)
Share This Post