ANNOUNCEMENT (7)
AoG CWS KGP MINISTRIES (3)
ARTICLES (585)
BERITA DUKA (12)
BUSINESS & MANAGEMENT (50)
CellGroup (9)
CONTEMPORARY THEOLOGICAL ISSUES (21)
GiCC (4)
Joshua-Caleb's Ministry (1)
LIVING WATER (37)
MARTYRS' STORIES (1)
Mission (18)
PASTOR's NOTE (25)
PRAISE AND WORSHIP (20)
SERMON OUTLINE (2)
Social (8)
Sunday School (61)
Women's Ministry (5)
Youth CLUB (51)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
15 Jun, 2009
ARTICLES
posted by Pdt. Budi Setiawan, M.Div
Pemilihan sudah selesai, Ahmadinejad terpilih lagi. Tetapi baru kali ini Iran diguncang begitu hebat dengan demonstrasi generasi muda yang menuduh pemerintah mereka telah memanipulasi hasil pemilu mereka. Negeri yang selama ini kelihatan bersatu untuk sebuah pokok “melawan Amerika dan antek-anteknya” tiba-tiba memperlihatkan sisi lain yang diluar dugaan. Negeri itu seperti terbelah sementara waktu. Kaum Muda yang disumbat aspirasinya karena tidak bisa mengawasi pemilu secara langsung, sebagian besar jalur internet diblokir oleh pemerintah Iran, turun ke jalan lalu mulai menunjukkan kemarahan mereka.
Negeri Iran yang sangat agamis dan dibawah otoritas para pemimpin karismatik dalam beberapa hari ini menunjukkan ciri ‘demokratis’nya walaupun dihambat. Sebagian yang merasa ‘dibohongi’ menuntut penjelasan dan pemeriksaan. Mereka jelas menuntut perubahan di negeri mereka. Mereka tidak ingin negeri mereka menjadi negeri yang terus menerus berada dalam ketegangan hubungan dengan berbagai pihak.
Bagaimanapun sejak Ahmadinejad memimpin, negeri mereka populer di antara mereka yang sangat membnci Amerika, tetapi bukannya tanpa konsekuensi. Negeri itu mengalami isolasi. Program nuklir Iran memicu desakan berbagai pihak agar menakan Iran guna memaksanya untuk menghentikan dugaan pengembangan uranium yang bisa dipakai untuk bom nuklir. Peristiwa peluncuran balistik Korea Utara dan pengakuan Korut bahwa mereka siap mengembangkan lebih banyak persenjataan nuklir, membuak mata banyak pihak bahwa kebohongan pengakuan mereka tahun 2002 bahwa mereka telah menghentikan program persenjataan nuklir mereka, dapat terjadi kepada Iran. Inilah yang menguatirkan banyak pihak. sebuah negara ternyata dapat berbohong.
Pernyataan-pernyataan seorang Kepala Negara, jika bukan dalam kondisi perang, sebaiknya bukanlah pernyataan-pernyataan yang membangkitkan provokasi kebencian dan permusuhan. Seorang Kepala Negara bukan mewakili agama dan dirinya sendiri. Ia mewakili seluruh kepentingan negeri dan rakyat. Ia berbicara atas nama rakyat. Dapatkah anda membayangkan, Ahmadinejad dapat memasuki Amerika untuk berbicara di PBB, tetapi benarkah seorang Amerika dapat berjalan di Iran dengan kebebasan yang sama, saya rasa tidak! Begitulah prinsip resiprokal jika tidak bekerja. Kita menjadi buta dengan mencari kesalahan orang, tetapi justru kesalahan kita sendiri tidak bisa kita lihat!
Kebebasan seorang Kepala Negara mengungkapkan ‘kemarahan dan kebencian’ jika mau jujur ditelisik, seharusnya sejalan dengan kebebasan yang dimiliki rakyatnya untuk mengungkapkan ketidak setujuan.
Memang segala sesuatu berada dibawah payung ‘kepentingan’. Rakyat diprovokasi untuk memperoleh dukungan. Emosi rakyat adalah makanan empuk bagi seorang yang ‘tega’ menggunakan untuk kepentingannya sendiri. Penderitaan Palestina telah menjadi alat politik di berbagai negara untuk kepentingan partai dan kelompok. Adakah yang benar-benar membela kepentingan Palestina? Belum kelihatan! Yang sungguh-sungguh membela kepentingan Palestina hanyalah rakyat palestina sendiri.
Sedangkan pengunaan isu Palstina di luar Palestina, hanyalah demi kepentingan-kepentingan luar Palestina! Tidak heran jika orang Palstina sendiri tidak merasa dirinya dibela. Ketika Ahmadinejad menyatakan agar Israel dihapus dari peta dunia, Mahmood Abas-lah yang bereaksi sangat gusar atas pernyataan Ahmadinejad. Mengapa? Karena pernyataan itu tidak membawa Palestina lebih dekat kepada perdamaian, melainkan menambah jauh. Pernyataan itu hanya berguna untuk Ahmadinejad untuk memperoleh dukungan luas atas tindakan politik negaranya. Pernyataannya membangkitkan solidaritas muslim dunia, tetapi tidak ada kaitannya dengan perdamaian Palestina.
Hanya nurani yang satu kali akan berdiri dan menghakimi semua orang.
Bagaimanapun, masih lebih baik Kepala Negara kita. Ia santun dalam menyampaikan pokok-pokok pikirannya. Jarang saya lihat Kepala Negara kita menggunakan isu-isu peka lokal, regional dan internasional untuk kepentingan pribadi dan partainya. Dalam beberapa hal, ia masih lebih jujur. Semoga negeri kita kembali kepada kebudayaan dasar kita sendiri. Jangan pernah bermimpi untuk menjadi seperti Iran atau Afghanistan. Jika masyarakat sungguh-sungguh dibuka matanya untuk melihat apa yang sebenarnya diterapkan di negeri seperti Iran dan Afghanistan, mungkin masyarakat akan tetap memilih menjadi diri sendiri. Negeri kita sudah banyak dirusak oleh berbagai kepentingan atas nama agama, penderitaan orang lain, visi regional dsb. Betul juga Megawati mengatakan, negeri kita kurang percaya diri!
Kita harus bisa menjadi diri sendiri dengan budaya kita sendiri. Mereka yang ingin mengubah negeri ini menjadi seperti negeri lain, dikuasai oleh kepentingan yang bukan mewakili negeri ini. Kita harus menyadarinya!
Membantu berdirinya Palestina berdampingan dengan Israel adalah keinginan banyak orang dan keinginan kita. Semoga jalan menuju ke sana semakin dekat!
Copyright © AoG CWS Kelapa Gading
Uraian yang manis, dan ternyata apa yang digembar-gemborkan selama ini, jauh dari bayangan ideal. Komunikasi disumbat, aspirasi mandeg, demi menjunjung yang gak jelas
Artikel / comment yang bagus, bagaimanapun juga perdamaian timur tengah mustahil tercapai tanpa berdirinya 2 negara yaitu Palestina dan Israel. Soal setelah itu nanti 2 negara tsb mau perang lagi, dan Iran akan berpihak pada Palestina…itu terserah nanti aja.
Kalau kita Indonesia, mari kita konsentrasikan ngurusin dalam negeri sendiri supaya rakyat makmur, tentrem kerta raharja.
good information..
Uraian yang menarik. Meski, tentu saja, tidak sepenuhnya benar dan bias. Bahwa selalu ada ketidakpuasan dalam pemilu ya lumrah saja. Ingat, Amerika pun pernah mengalami kekisruhan dalam hasil pemilu, yaitu saat Al Gore dan George W. Bush bertarung. Ketika itu, keputusan pemenang ditentukan pengadilan.
Dalam kasus di Iran, kekisruhan belum tentu disebabkan faktor Ahmadinejad. Secara pastinya, ya biarlah masyarakat di sana yang menilainya.
itu ada unsur eropa (inggris & perancis)-usa yg membesar-2kan masalah…dr calon yg kalah sendiri sdh bisa nrima kekalahan tp para pedukungnya krn mobilisasi gerakan2 luar melakukan aksi protes yg disinyalir krn dipropaganda inggris dan perancis.sdgkan dr kubu ahmadinejad yg cmnderung pro amerika wlaua dlm beberapa hal sgt menentang USA.membiarkan hal ini tjd.krn dg kemenangan ahmadinejad kepentingan USA diIran akan ttp exiz.jelas negeri Muslim slalu jadi lahan rebutan antara Eropa dan Usa..saatnya muslim bangkit dan harus lepas dr cengkraman tangan barat,baik itu eropa n USA..krn semua akan membawa kerugian thd islam sendiri.Moga Allah sgr memberi pertolongan kepada kaum muslim didunia.amiin
[...] Seimbang – 2,322 viewsFoxnews tentang Mosab Hassan Yousef – 2,297 viewsI Have A Dream – 2,096 viewsMengapa Generasi Muda Iran Marah – 2,069 viewsMengapa Masih SBY ? – 1,926 viewsBob Sadino & Kewirausahaan – 1,521 viewsPidato [...]
Mungkin juga generasi Iran marah, lantaran presidennya di isu kan ada ras Yahudi.
Dan mereka mulai merasa curiga dan takut, jangan-jangan sengaja presiden mereka membuat panas rakyatnya dengan anti Israil, kemudian setelah situasi memuncak / memanas dan kemudian rudal Yahudi mengarah ke Iran presiden mereka diam-diam sudah pulang kampunng!
Dasar si Yahudi, dimana-mana bahkan ada orang tanpa sadar mengakui Yahudi hebat ! Contoh kalau seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan maka tanpa sadar orang tersebut terkadang mengucap “Pokoknya YAHUUUUUT deh”.
Itulah Misteri tentang satu-satunya sebuah negara di dunia, yang membuat negara lain terutama disekitarnya pusing ! Contohnya sampai ke Iran.
Dapatkah anda membayangkan, Ahmadinejad dapat memasuki Amerika untuk berbicara di PBB, tetapi benarkah seorang Amerika dapat berjalan di Iran dengan kebebasan yang sama, saya rasa tidak!….
Saya tertarik dg kalimat diatas, karena gak lengkap informasinya shg cukup provokatif (bagi yg gk tau)…
Ahmadinejad saat itu berbicara di Markas PBB (New York), dan disitu berlaku hukum internasional…Ahmadinejad tdk msk daftar cekal PBB dan dia diundang utk berbicara disitu… Negaranya tdk berhutang pada PBB (tdk spt Amerika). Andai Markas PBB di Iran, Mgkin G.Bush boleh bicara disana tp tntu saja gk mgkin Markas PBB di Iran…ya gakk…jd yg salah bukan Ahmadinejadnya..yg salah knp Markas PBB di Amerika, bukannya di Rusia atau China…biar netral…