
Gambar ini baru saja saya potret,,, Apa iya diri kita seperti tanah liat, yang diproses pakai mesin, dilumat, diputar-putar sambil dibentuk….? dari jelek sampai jadi cantik. Sore ini, seusai rapat di luar kantor, saya mengajak atasan saya mampir ke rumah seorang sahabat waktu 25 tahun yang lalu. Unik memang bertemu lagi dengan teman SD setelah sekian lama tidak bertemu. Rumahnya penuh dengan keramik, karena memang ia membuat home industry yang memproduksi keramik. Saya baru pertama kali melihat alat penjunan yang membentuk tanah sampai berwujud barang bagus seperti yang diinginkan, seperti beberapa gambar yang saya taruh disini.
Ada ratusan bentuk perabot yang terbuat dari keramik. Namun ada juga yang masih fresh- masih basah, maupun yang sudah didiamkan beberapa hari namun belum indah karena belum selesai proses.
Saya teringat lagu “Ubah hatiku… Engkau penjunan, ku tanah liat”. Ratusan keramik itu, bila diibaratkan manusia, sebagian keramik itu adalah teman-teman, sebagian lagi suami saya dan anak-anak saya. Dan keramik bentuknya paling jelek, atau yang masih berada di dekat mesin penjunannya, yang masih dalam proses,mungkin itulah saya.
Saya dan saudara memang seorang penyembah, yang kelihatan di mimbar begitu mantap. Tetapi seperti keyakinan saya, penyembah yang hebat tercipta dari penyembah yang mengalami proses yang hebat pula. Tidak ada penyembah yang tercipta secara instant tanpa proses.
Sekilas mungkin saudara berpikir “proses” menyangkut latihan tarik suara, latihan petik gitar, jam terbang nge-band, atau anak-anak tangga kaderisasi dari choir menjadi singer lalu menjadi WL. Bukan! Kali ini bukan soal itu! Ini proses hati, proses batin, proses karakter, pokoknya…ini memang berat. Sampai kita nyerah,dan berkata, “Tuhan, saya tidak kuat lagi,..”, “Tuhan, saya lelah…” “Tuhan, saya capek…”, “Tuhan, saya nyerah…, capeeeeeeeekkk banget.” Tapi kenyataannya? Kita tetap harus melewati persoalan itu. Saya percaya dalam pikiran saudara masing-masing dengan cepat dapat menemukan apa yang saya maksud tanpa saya kasih contoh “persoalan” kehidupan.
Seperti halnya apa yang dilakukan seorang Penjunan kepada tanah liat… sampai jadi keramik yang bagus, Tuhan memproses kita melalui semua peristiwa dan pengalaman pahit….karena punya maksud tertentu…
1. Tuhan mau menyelesaikan pekerjaanNya di dalam kita.
Keramik yang sudah terbentuk, belum selesai… masih perlu diwarnai agar menjadi cantik… masuk dulu sekali lagi ke dalam oven…
Kita bisa ada sekarang ini, itu adalah inisiatif Tuhan. Tuhan yang memulai kehidupan kita dan segala sesuatu yang baik dalam diri kita, tetapi itu belum selesai. Dia tidak bisa selesaikan tanpa suatu proses. Kalau enggak, kita ibarat barang yang belum jadi. Tidak enak dilihat dan tanggung!
2. Tidak ada cara lain yang bisa Tuhan pakai untuk membentuk kita selain cara itu.
Keramik yang di dekat mesin penjunan itu adalah keramik-keramik yang masih jelek….

Ketika suatu masalah berat menimpa saya, rasanya seperti ditabrak kereta barang dari belakang secara tiba-tiba, saya berpikir pendek, dan jiwa saya benar-benar memberontak, saya benar-benar marah. Ke kanan kiri saya marah, “seharusnya saya tidak mengalami ini!”. Pelayanan yang ditekuni sejak lama pun serasa akan tamat. Tapi ada perkataan seorang teman yang tidak pernah saya lupa: “Tuhan izinkan hal itu, anggaplah tidak ada cara lain selain cara itu untuk menyempurnakan kamu.” Rasanya sebel banget! Tapi memang begitu, siapa yang jelek keadaannya, itulah yang biasanya makin dekat sama Tuhan, tak bisa jauh-jauh dari Tuhan karena masih perlu diproses.
Tidak ada cara lain bagi Tuhan untuk membentuk kita selain apa yang saat ini sedang kita hadapi.
3. Tuhan mau agar kita terlihat lebih bernilai di mata sesama.
Kalau kita lulus dan lewat suatu peristiwa atau persoalan pelik, perhatikanlah baik-baik…kita diperhadapkan dengan hidangan yang indah, berkat-berkat yang istimewa, dan ketemu orang-orang yang mengagumi kita dan memuliakan nama Tuhan.
Keramik yang sudah jadi, tidak dibiarkan di tempat yang kotor atau di gudang, tetapi pasti dikumpulkan dengan semua yang bagus-bagus… karya sang penjunan dinilai, dipuji orang, dipakai, bahkan banyak yang dikagumi…

4. Tuhan mau agar kita mengalami Dia, bukan membicarakan tentang Dia.
Penyembah pasti menggunakan lidah bibirnya untuk bernyanyi dan berbicara tentang kemuliaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan inginkan bukan itu…. Tuhan mau kita mengalamiNya! Kalau kita tidak mengalami Dia, nyanyian dan kata-kata kita tidak mungkin punya kuasa! Lebih mirip basa-basi. Tetapi kalau kita mengalami Dia, pada saat kita nyanyi dan bicara, ada power dan urapan yang nyata. “Amin ya amin”, kata umat Tuhan yang mendengarkannya.
5. Tuhan mau agar kita mengalami kreatifitas Allah di tengah keadaan yang tidak menyenangkan.
Saya ingat sebuah tulisan di pena gembala; bahwa Allah selalu punya kejutan, caraNya yang tidak diduga untuk membuat anak-anakNya sukacita, asalkan kita memiliki hati yang baik. Betapa menyenangkan, di tengah kesukaran, di saat seolah sedang terdampar dan dunia menjadi sepiiiiiiiiiiiii sekali, dengan cara yang tak terduga Tuhan bisa pertemukan dengan teman-teman lama, atau walau hanya melalui teknologi internet sekalipun, bisa menjadi penghiburan tersendiri. Allah kita kreatif. Kejutan-kejutan dari hal-hal kecil seperti panggilan telepon seorang kawan baik, sampai berkat-berkat yang besar seperti paket liburan gratis dan tiket ke luar benua. Allah benar-benar kreatif ! Tanpa diduga, kiriman menu istimewa untuk makan siang datang ke kantor saya dari teman lama, wah…kejutan. Sebuah email dari pemimpin rohani yang lama tidak bertemu, perhatian dan dukungan dari jarak jauh. Lho kok bisa?? Ya bisa. Jangan batasi keunikanNya. Asal hati kita baik, di tengah keadaan yang tidak menyenangkan, selalu ada tetesan bahagia.
Lewat proses yang panjaaaaaang sekali, Dia punya cara untuk membuat kita hebat.
Tuhan Yesus memberkati.

























renungan yg bagus ka..thx
Renungan ini sangat bagus .
Oh Ya. Boleh barangkali saya bercerita tentang = (Berdoa ( Martangiang )”
Waktu saya masih kecil dan tinggal di desa yang boleh dikatakan udik banget .
Biasanya kalau kami makan bersama dengan orang tua, pasti sebelum makan harus berdoa lebih dulu. Lain halnya kalau makan sendiri – sendiri, saking laparnya tidak ingat lagi untuk berdoa. Bahkan sampai dengan saat ini sering makan lengsung tanpa berdoa lebih dulu.
Cuma yang mau saya ceritakan pada kesempatan ini adalah kalau ada acara dikumpulan keluarga dan acara yang saya ikuti selama di sumatera dan di pulau jawa ini sering orang yang mau memimpin doa mengatakan martamiang ma hita ( dalam arti Mari kita Berdoa ) .
Nah pada suatu saat saya berpikir mana yang benar bahasa Batak MARTAMIANG ATAU MARTANGIANG akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa martamiang itu adalah SALAH sebab kata dasarnya adalah TAMI konon menurut cerita bahwa Martamiang itu adalah suatu cara menyembah atau memohon kepada Leluhur kita dalam pengertian bukan menyembah atau memohon kepada Allah/Tuhan .
Dan Martangiang berasal dari Kata TANGI ( dengar ) Martangiang mempunyai arti :
1. Dalam arti yang luas menurut saya adalah menyampaikan syukur kepada Allah/Tuhan atas segala berkat dan karunia kepada setiap orang yang percaya padanya,dan suatu ungkapan dari pribadi – pribadi yang menginginkan kemurahan Allah/Tuhan untuk memberikan apa yang manjadi kebutuhan Jasmani dan Rohani setiap yang percaya bahwa itu akan itu akan dikabulkan cepat atau lambat .
2. Dalam arti yang sempit Martangiang itu adalah suatu kegiatan Rohani manusia untuk bersyukur dan meminta apa yang diinginkan yang jumlahnya relatif ( sesuai dengan doanya saat itu. )
Tetapi sesungguhnya siapa yang pertama mendengar Doa kita ?
Dalam suatu acara kebaktian di Gereja HKBP di Bekasi saya mendengar Pendeta mengatakan bahwa yang pertama mendengar doa itu adalah DIRI PRIBADI YANG BERDOA ITU alasannya :
1. bahwa hal itu merupakan bukti pada Tuhan orang yang berdoa tersebut menyayangi Tuhan
2. Bukti mencintai Tuhan sehingga Ia mau menyampaikan apa yang ada padanya.
3. Sebagai bahan untuk warning pada diri pribadi yang berdoa, dst
Saya tidak tau pasti apakah ceritaku yang singkat ini pernah terpikirkan saudaraku, hanya saya berharap bahwa ceritaku ini dapat membawa suatu yang baru bagi pecinta cerita walaupun saya sadar bahwa cerita ini belum ada apa-apanya. Salaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaam dalam kasih Tuhan .
Puji Tuhan, terima kasih Sdr. Krabil Hutahuruk.
Kiranya tulisan-tulisan di web ini menjadi berkat bagi anda sebagai pencinta cerita juga..
Salam,
Rieska Astari