Salah satu sebab mengapa Injil Yohanes kurang dipakai sebagai rujukan oleh para teolog yang ‘kurang’ menyukai ketuhanan Yesus adalah karena Injil Yohanes secara terang-terangan menuliskan tujuan penulisan Injil tersebut. Yohanes mengatakan bahwa ia menuliskan sebagian cerita yang diingatnya dalam hubungannya dengan Yesus, sebagai murid yang dikasihi-Nya, supaya orang-orang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Yoh. 20:31.
Jadi berdasarkan tujuan Injil itu ditulis, mereka berkata bahwa Injil ini terlalu sarat dengan motif, sehingga kurang bisa diandalkan. Kemudian mereka beralih kepada ketiga Injil lainnya untuk lebih mendapatkan Yesus secara historis, termasuk membuang semua unsur yang ‘menurut’ mereka adalah mengandung mitos dan supranaturalisme. Mereka berusaha menemukan ajaran moral esus terpisah dari unsur iman apapun sehingga sewaktu mereka mencapai kesimpulan mereka tentang Yesus, mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Yaitu Yesus yang bukan dari Alkitab.
Segala tulisan mengandung motif. Tetapi Alkitab dituliskan dibawah inspirasi Roh Kudus untuk tujuan yang sangat jelas yaitu meyakinkan orang tentang Yesus adalah Anak Allah. Alkitab bukan sekedar catatan sejarah, karena ia adalah buku iman. Alkitab buku sains sekalipun didalamnya terdapat sains. Alkitab memiliki tujuan dan motif yang sangat jelas yaitu untuk iman. Jika orang memisahkan Yesus dari motif pertama mengapa kitab-kitab Perjanjian baru dituliskan, ia akan menemukan Yesus tetapi bukan seperti yang dituliskan oleh para penulis Perjanjian Baru.
Menolak Yesus yang diceritakan Alkitab adalah menolak asas utama tentang iman itu sendiri. Yesus harus diceritakan dalam konteks Alkitab. Ia bukanlah Yesus yang sesungguhnya jika ia diceritakan dilepas dari konteks iman.
Anda tidak bisa meragu-ragukan Yesus dan Alkitab seolah-olah Alkitab sudah diselewengkan atau diubah isinya. Jika anda bisa menerima Gajah Mada, kerajaan Majapahit, kerajaan Sriwijaya, dan tokoh sejarah Indonesia dengan kesaksian minim saja, Diponegoro , dsb. meyakini keberadaannya dan bahkan mengajarkan kepada orang lain, itu berarti anda beriman sangat kuat kepada sejarah Indonesia. Tetapi jika anda membandingkan dengan catatan tentang Yesus dari sejarah sekuler, kesaksian para murid, ribuan manuskrip yang masih ada sampai hari ini, sebenarnya anda tidak perlu iman lagi untuk membuktikannya. Keyakinan anda kepada adanya Gajah Mada membutuhkan iman 1.000 kali lebih besar dari keyakinan anda tentang Yesus dan Alkitab.

Penolakkan orang secara serampangan hanya menunjukkan bahwa “I don’t believe in it” bukan “I can prove it that my unbelief is right”. Sains tidak pernah bisa membuktikan iman itu salah. Hanya sesama iman yang bisa menandinginya. Yaitu iman bahwa yang dipercayainya itu salah.
Sedangkan untuk membuktikan bahwa itu salah, tidak mungkin bisa. Apalagi untuk kasus Yesus. Untuk kasus Yesus, bukti-bukti terlalu banyak dan terlalu kuat. Jadi hanya ‘sikap’ yang dibutuhkan agar orang tidak percaya kepada-Nya. Cukup berkata, “Saya nggak mau percaya”. Nah itu-lah asas penolakan yang sesungguhnya.
Jika anda percaya bahwa Alkitab telah diubah dan berbohong, paling tidak kagumilah bagaimana mereka para penulis bisa seragam dalam berbohong, bagaimana mereka berbohong dengan warna dan tentang sesuatu yang sama.
Bukankah itu problem yang dijumpai Yesus selama Ia hidup. Penolakkan kepadaNya bukan barang baru. Dalam artikel sebelumnya saya sudah sampaikan bahwa penolakan tentang Yesus Anak Allah bukan barang baru, itu sudah ada. Tentang kematian dan kebangkitannya, bukan barang baru. Sebelum kemunculan Islam tahun 600 M, orang Kristen telah menyadari bahwa kebangkitan Yesus akan diragu-ragukan orang. Itulah yanga ada dalam kitab-kitab Injil. Jadi penolakan orang kepada kebangkitan Yesus, hanya menggenapi apa yang memang sudah tertulis.
Bagaimana konsekuensinya? Yesus berkata, bukan Dia yang akan mengadili mereka, melainkan Musa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Nya. Untuk percaya kepada Yesus adalah kasih karunia Allah. Bagi Petrus ketika ia menjawab pertanyaan Yesus tentang siapa diri-Nya menurut Petrus (Matisu 16:16) itu adalah kasih karunia. Yesus berkata bahwa bukan Petrus yang berkata demikian, melainkan Bapa yang menyatakan itu.
Untuk mengingatkan pembaca, bahwa bagi pikiran orang Yahudi, istilah ‘Anak Allah’ tidak memunculkan masalah tentang Allah melahirkan. Orang Yahudi sebagai penerima pesan Yesus waktu itu memiliki pengertian yang sama dengan apa yang ada dalam pikiran Yesus bahwa pengertian ‘Anak Allah’ adalah ‘keluar dan datang dari Allah’
Jadi dalam Injil Yohaneslah anda menemukan pernyataan-pernyataan Yesus yang sangat spektakuler. Di antara yang paling spektakuler menurut saya adalah ucapannya dalam InjilYohanes 10:17-18 yang berbunyi:
“Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak ada seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnyakembali . Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa.”
Yohanes 10:28 yang berbunyi:
“dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.”
Cobalah anda perhatikan perkataan Yesus. Manusia yang bagaimana yang sanggup mengatakan demikian. Pantas kalau para prajurit yang diutus oleh imam-imam untuk menangkap Yesus kembali dengan tangan kosong, mereka berkata, “Belum pernah ada manusia yang berbicara seperti Dia!”.
Ia memiliki kekuasaan atas kehidupan. Implikasinya ada beberapa. Pertama, mengenai kematian-Nya di kayu salib. ia berkata bahwa Ia menyarahkan nyawa-Nya, Mat. 27:50. Memang Ia sendiri dan para murid berkata bahwa Ia akan dibunuh. Tetapi pengertian yang bisa muncul dari ucapan Yesus adalah bahwa kematian-Nya adalah sebuah keputusan pribadi Yesus juga, yaitu menyerahkan nyawa-Nya.

Kedua adalah ketika Ia membangkitkan beberapa orang, diantaranya Lazarus. Mengapa bukan semua orang dibangkitkan waktu ia melayani. Kita seharusnya mengerti implikasi berikut ini bahwa Yesus sengaja memilih siapa yang akan dibangkitkan-Nya dalam pelayanan-Nya.
Dengan kekuasaan sedemikianlah nanti Yesus akan kembali. Ia membangkitkan semua untuk dihakimi.
Semoga pengertian ini memberkati anda pembaca!
























