

Anda perhatikan kualifikasi setiap Capres dan Cawapres dalam debat mereka, mungkin terlintas dalam pikiran anda, mengapa bukan cawapres yang menjadi capres? Benar! Mengapa bukan mereka saja yang menjadi Capres-nya? Mereka kelihatan sudah berada dalam tingkat action dan sangat mengerti mengapa mereka akan melakukan sesuatu.
Jika anda perhatikan apa yang disampaikan oleh Mega, SBY dan JK, maka anda mendapatkan gambaran bahwa ketiganya selalu menempatkan Visi sebagai pokok utama pembicaraan. Sehingga pembicaraan tersebut berkisar kepada hal-hal umum yang hampir kesemuanya mirip-mirip saja. Tataran umum yang mereka ulas hanyalah memberikan gambaran apa yang bakal jadi ke depan jika mereka dipilih.Untuk kondisi pemaparan seperti ini, sangat sulit melihat debat sesungguhnya. Ketiganya akan sepakat kepada platform umum yaitu kesejahteraan rakyat! Tidak lebih dari itu!
Kecuali JK yang kelihatan lebih taktis dan menyadari bahwa pemaparan Visi tidak membantu pencitraan seseorang kecuali ditambahi contoh implementasi apa yang dipaparkan serta implikasi penerapan, yang berarti bahwa secara beresiko JK masuk ke arah detail. Ini manuver bagus terutama bagi rakyat kecil dan pengusaha. Artinya, sekalipun Visi mungkin kelihatan kurang menyeluruh dan terlalu muluk, tetapi jika detail kemudian dibicarakan, maka itu lebih bisa diterima. Syarat kepraktisan adalah gambaran ringan dan konkrit apa yang bakal terjadi dengan visi jika jadi kenyataan dan bagaimana langkah yang bakal diambil, serta akibat-akibatnya.
Tetapi khusus dalam debat Cawapres, jelas lebih menarik bagi rakyat dan permirsa. Ketiganya kelihatan lebih percaya diri, kecuali bahwa gagasan mereka sudah diberi parameter untuk tidak keluar dari visi yang dimiliki oleh capres mereka. Tetapi jika mereka diberikan kebebasan untuk berbicara dan melepaskan diri dari parameter Capres maka mereka akan menampilkan citra sesungguhnya. Kecuali Budiono yang kelihatan kurang menguasai prinsip-prinsip kenegaraan, karena bidangnya ekonomi, tetapi kedua lainnya kelihatan taktis dan menguasai. Karena mereka militer, sudah terbayang apa yang harus dilakukan berdasarkan rantai komando dan jalur.
Mereka bukan tidak menguasai ekonomi, justru kelihatan Prabowo dan Wiranto mengerti bahasa ekonomi yang harus didengar oleh rakyat. Boediono mungkin terperangkap kepada peristilahan dan kosenp ekonomi saja. Sedangkan kedua lainnya menggabungkan pandangan ekonomi dan kenegaraan. Keduanya seperti sangat yakin, bahkan lebih yakin dari Capres mereka sendiri mengenai bagaimana negara ini seharusnya dikelola. Mereka sudah memiliki gambaran itu di kepala mereka, hanya tentu mereka mengikuti tata krama untuk tidak melebihi Capres mereka sendiri. Tetapi sekali lagi, jika mereka benar-benar diberikan kesempatan untuk berbicara dari diri mereka sendiri tanpa batasan maka mereka akan menampilkan kecerdasan dan kearifan masing-masing.
Sebenarnya lebih cocok jika Cawapres dijadikan saja Capres. Mereka kelihatan lebih tangkas dan berjejak kuat pada realitas. Mereka lebih berani, dan Indonesia akan lebih semarak jika Cawapres yang menjadi Capres-nya!
























