Chin-Ning Chu
Saya terkesan denganĀ apa yang dituliskan Chin-Ning Chu – Presdir Asian Marketing Consultants, Inc. Seorang penceramah internasional, pelatih perusahaan, konsultan dan penulis sejumlah buku termasuk the Asian Game. Saya kutip tulisannya dalam buku Thick Face, Black Heart (Mental Baja, Pantang Menyerah) hal. 45-48 dengan sedikit perbaikan kalimat.
“Di bawah rasa takut akan keberhasilan dan kegagalan terdapat ketakutan akan penderitaan. Faktor yang paling memotivasi tindakan manusia adalah hasrat untuk menhindarkan diri dari penderitaan dan menjanjikan kesenangan.
Pasti ada beberapa individu yang akan memperdebatkan bahwa ini tidak berlaku bagi mereka. Namun, tujuan dari jerih payah adalah kemungkinan dijauhkannya penderitaan lahiriah dan menjadi dekat dengan kesenangan-kesenangan lahiriah – nikmatnya berkat Tuhan.
Bila seseorang dapat meyakinkan orang lain bahwa dengan melakukan sesuatu berdasarkan cara tersebut maka itu akan meningkatkan kesenangan hidup dan mengurangi penderitaan, pasti orang itu akan menjadi sangat terkenal. Lihat saja pidato-pidato politik yang disampaikan selama seabad belakangan ini.
Mereka tidak pernah berubah: “Jika anda memberikan suara untuk saya, hidup anda akan menjadi lebih baik. Anda akan memiliki uang ekstra untuk dibelanjakan, anak-anak anda semua akan mencapai pendidikan yang lebih tinggi guna menjamin masa depan yang lebih sejahtera. Anda akan memilikiperumahan mewah yang harganya terjangkau, anda akan memilikipertahanan yang kuat, anda akan memiliki program kebudayaan guna memperkaya hidup anda, dan saya berjanji tak akan ada kenaikan pajak.”

Siapa saja yang dapat melukiskan gambaran yang paling meyakinkanlah yang akan terpilih.
Hitler memahami prinsip-prinsip ini. Saat ia berkuasa di tahun 1933, Jerman sedang mengalami depresi ekonomi yang parah. Rakyat Jerman masih harus menanggung aib memalukan akibat kesalahan mereka dalam Perang Dunia I. Bangsa Jerman sedang mengalami penderitaan fisik dan emosional.
Partai Nazi sosialis semu Hitler menjanjikan kehidupan ekonomi yang lebih baik dan kemungkinan pengembalian masa kejayaan bangsa Jerman. Janji itu ternyata lebih menarik daripada kesulitan dan kenyataan yang tanpa harapan. Bangsa Jerman membuka tangan bagi Hitler dan memeluknya. Hitler mewujudkan janjinya. Ia berhasil membawa Jerman keluar dari depresi ekonomi dan menyatukan bangsa-bangsa yang berbahasa Jerman. Tahun 1938, Hitler sedang berada pada masa puncak kejayaannya. Menurut sejumlah pakar sejarah, jika ia meninggal pada tahun tersebut ia akan dikenang sebagai negarawan tersesar dalam sejarah Jerman.
Eva Duarte Peron dari Argentina, yang lebih dikenal sebagai Evita, lebih dianggap menyerupai orang suci di saat kematiannya pada tahun 1952. Ia menggunakan hanya satu senjata untuk menyelamatkan kediktatoran suaminya. Ia meyakinkan Argentina yang miskin bahwa ia dan suaminya adalah satu-satunya harapan bagi kehidupan yang lebih baik. Ia menggunakan dirinya sebagai panutan, di mana ia dibesarkan di daerah kumuh Buenos Aires. “Ikutilah saya, anda akan mencapai puncak bersama saya.” Dan Argentina mempercayainya.
Hitler menyampaikan sesuatu yang nyata. Eva Peron menjanjikan harapan. Keduanya meyakinkan masyarakatnya bahwa mereka memiliki sarana untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan kesenangan hidup.
Setengah abad lewat, orang-orang tetap tidak semakin bijak. Kita masih saja bersedia menerima siapa saja yang menjanjikan peningkatan kehidupan dan pengurangan penderitaan. Kita menjalankan hidup dengan hasrat mencapai kesenangan dan mengurangio penderitaan. Kita semua bak tikus-tikus percobaan di laboratorium yang sudah menemukan pintu mana yang menyimpan keju.
Mantan Presiden AS, Ronald Reagen adalah pakar memanipulasi emosi manusia yang sederhana ini. Untuk memenuhi janjinya kepada rakyat AS: “merasa lebih baik”, ia telah menciptakan suatu kesejahteraan palsu. Ia meminjam masadepan Amerika, mengubah Amerika dari negara yang memberikan pinjaman terbesar, menjadi negara pemimjam terbesar dalam kurun waktu delapan tahun.
Sejarah telah membuktikan bahwa pengejaran buta terhadap kesenangan dan upaya untuk menghindarkan diri dari penderitaan hidup hanya mengakibatkan ras manusia menyabotase dirinya sendiri. Secara membabi buta kita mengejar kesenangan hidup apapun resikonya dan merampok kemungkinan kita sendiri untuk menjadi ‘besar’.
Obat untuk menyembuhkan cacat cela nasional ini adalah dengan Mental Baja, Pantang Menyerah. Abraham Lincoln sangat menyadari bahwa harga di balik kebesaran terletak pada mengejar kesenangan dan menghindari penderitaan. Ia berjuang keras demi hadirnya prinsip-prinsip pemerintahan yang demokratis dan bersedia menghadapi resiko biansanya bangsa yang dicintainya.
Gapailah keberanian untuk percaya pada diri sendiri.
Dari sekian banyak hal yang pernah diajarkan kepada anda, ada yang pada suatu saat merupakan gagasan idividu yang kelihatan radikal – yang memiliki keberanian untuk percaya bahwa apa yang ada dalam lubuk hati dan pikiran meraka adalah yang benar, dan tidak hanya menerima keyakinan umum yang berlaku pada masa itu.
Dalam dunia pengetahuan, Galileo dan Darwin langsung muncul dalam benak kita. Gagasan-gagasan mereka memperdebatkan keyakinan yang telah mengakar tentang nasib manusia dalam alam semesta ciptaan Tuhan. Keduanya menjungkirbalikkan dogma agama yang sudah mengakar, sehingga menjadi suatu perdebatan yang sengit.
Saya melewatkan masa kecil saya di salah satu propinsi Cina dan pada masa-masa selanjutnya di Amerika. Dari waktu ke waktu, saya memperhatikan bahwa adat istiadat yang sudah mengakar dan tidak diragukan lagi perannya dalam kebudayaan tertentu justru hanya dianggap sepele dan sewenang-wenang bila dipandang dari sudut pandang kebudayaan yangberbeda.
Saya teringat pada wanita tua yang tinggal di jalan yang sama dengan kami, saat saya masih kecil. Anak-anak sebaya kami memanggilnya dengan sebutan bibi Wong.
Walaupun sudah cukup berumur, ia adalah wanita aktif dan energik. Seperti wanita-wanita sebayanya, ia tetap mengenakan busana tradisional dan menyanggul rambutnya dengan rapi, menghias dengan jepit rambut yang terbuat dari batu giok atau perak. Namun berbeda dengan wanita tua dari generasinya, bibi Wong tetap melangkah dengan mantap jika berjalan. Tubuhnya tidak sempoyongan bertumpu pada kedua akki yang mungil karena tulang kaki yang patah dan sudah tidak sempruna lagi benjtuknya.
Di jaman dulu, sudah menjadi kebiasaan pada masa itu untuk mematahkan tulang kaki para gadis dan membalut seerat mungkin hingga jari-jari kakinya tertekuk ke bawah dan akan menjadi mungil begitu proses penyembuhan selesai. Rupanya terlintas pada pikiran orang-orang jaman itu bahwa kaki yang salah bentuk merupakan komponen kecantikan bagi wanita. Selain dianggap cantik, menurut anggapan mereka sendiri, membalut kaki erat-erat tersebut menyebabkan goyangan pinggul yang dianggap sensual. Namun, sensualitas dari goyangan pinggul tidak ada kaitannya disini. Pinggul mereka bergoyang karena memang tidak bisa berjalan dengan lurus.
Akan tetapi, ibu dari bibi Wong ini adalah seorang wanita luar biasa berani. Ia melarang siapa saja yang hendak membalut kaki anaknya. Ia menentang secara fisik setiap anggota keluarga yang menjadi marah kepadanya karena menolak melakukan upacara tersebut. Dalam sisa hidupnya, ia menjadi perisai dan penlindung antara anak gadisnya dan mereka yang berusaha untuk membuatnya susah berjalan.
Ketika ibunya meninggal, bibi Wong sudah berumur tiga belas tahun dan kedua kakinya sudah terlanjur lebar untuk dibalut.
Dari sudut pandang abad dua puluh Amerika, sangatlah mudah untuk mengecilkan arti keberanian ibu kandung bibi Wong. Bagi kita sekarang, membalut atau mengikat kaki sudah jelas merupakan praktek biadab dan di luar perikemanusiaan, hingga akal sehat saja tampaknya sudah cukup untuk melarang melakukan upacara tersebut.
Namun, di masa bibi Wong hidup, hanya pembantu dan wanita petani yang membiarkan kaki mereka tidak dibalut. Akan menjadi aib yang besar bagi keluarga terpandang jika kaki putri mereka kelihatan seperti kaki wanita yang kasar dan bukan keturunan orang baik-baik.
Tetapi, saat ini banyak tradisi kuno di Cina yang berubah dalam tahun-tahun di awal abad ini. Tradisi membalut kaki sudah tidak dilakukan lagi. Generasi bibi Wong adalah generasi terakhir yang melakukan upacara tersebut. Bukannya melewatkan hidupnya sebagai kaum terhina, bibi Wong adalah salah satu dari segelintir wanita Cina masa itu yang menyesuaikan diri dengan standar baru yang berlaku di Cina.
Para wanita yang melangkah terhuyung-huyung karena kaki mereka yang terlanjur dibalut kini sudah memasuki usia tua dan bagaikan peninggalan dari masa lalu. Rangkaian ‘rantai tak terlihat’ yang mengekang tradisi dan praktek kebudayaan, terasa lebih erat mengikat daripada sepasang belenggu besi.
Kehidupananda memang akan lebih sulit jika anda melanggar standar tingkah laku yang sudah terlanjur diterima masyarakat tanpa alasan.
Meskipun begitu, selaku pelaku Mental Baja, Pantang Menyerah, anda harus dapat melepaskan diri dari belenggu rantai tadi dan memiliki keberanian utnuk tetap setia kepada keyakinan anda.“
























