
Orang berhenti dari pelayanan dengan banyak sebab dan alasan! Tetapi mengetahui alasan dan sebabnya tidaklah sepenting mengatasi akar permulaan mengapa semua itu muncul secara tiba-tiba. Apa yang muncul secara tiba-tiba berasal dari penumpukkan dan pembiaran yang kita sendiri lakukan.
Jika anda teliti kejatuhan Yudas Iskariot anda menemukan semacam pola. (keinginan, rencana, aksi – Yakobus 1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.)
Anda juga dapat membaca Yohanes 21 dan menemukan pola lain. Kita tidak meninggalkan Tuhan, tetapi kita telah berhenti menginginkan pelayanan. (kehilangan pemimpin, takut, tawar hati, meninggalkan)
Baik kegersangan, kekecewaan dan kesalahan yang terjadi, sebenarnya berpusat pada beberapa kenyataan penting. Ada 3 hal yang perlu kita perhatikan:
Kita telah membiarkan hal-hal kecil yang mengganggu dalam hidup rohani kita untuk terus menerus menggerogoti kita. (Dikatakan kecil karena hal ini sering luput dari perhatian kita)
- Keinginan kita tidak terpenuhi yang berujung pada kekesalan hati … ingatlah bahwa pusat pelayanan seharusnya bukan diri kita tetapi TUHAN. Bukan standard kita melainkan standard Tuhan
- Kompetisi dengan keinginan menyingkirkan orang lain yang menyebabkan kita sensitif jika ada orang yang tidak sepaham dengan kita … ingatlah bahwa anda ditetapkan utuk maju bersama-sama, bukan anda sendiri maju dan oang lain tersingkir.
- Tuntutan perubahan dalam diri kita telah diabaikan, kita menolak berubah. Padahal integritas adalah kemampuan memenuhi tuntutan perubahan … ingatlah bahwa setiap pengalaman membawa tuntutan perubahan, kita harus bersedia berubah
Kita telah mengisi pikiran kita dengan apa-apa yang tidak seharusnya
- Membiarkan hati pikiran kita diisi dengan informasi negatif baik tentang gereja kita, tim kita, pemimpin kita, dsb. Dengan mudah anda akan terseret kepada posisi yang berbahaya hanya karena terpengaruh … ingatlah bahwa anda akan jadi sebagai apa yang anda pikirkan
- Kita mulai terbiasa menyimpan ‘peluru’. Anda merancang untuk membalas, berpolitik dan mempermalukan orang lain. Padahal anda bisa menyelesaikannya di awal tanpa menunggu saat berhadapan dengan orang banyak … jangan merencanakan untuk mempermalukan orang di muka umum padahal anda punya kesempatan bertatap muka dengan baik
- Kita melupakan sebuah doa: “I ask for justice, I look at myself, then I ask for mercy”. Kita menuntut keadilan tetapi ketika kita melihat kekurangan kita sendiri, kita memohon belas kasihan Tuhan … Saat anda merasa benar, saat itu anda sebenarnya bersalah
Kita telah menyerahkan kendali diri kita kepada orang lain.
- Kita mulai mudah kecewa seperti orang lain kecewa … kita menari dengan genderang orang lain
- Kita mudah memutuskan berhenti seperti yang dilakukan orang lain …mengapa pengabdian anda mesti ditentukan oleh orang lain?
- Kita mudah menyerah seperti yang diinginkan oleh Iblis … selalu ada rencana jahat Iblis untuk menghentikan anda dari pelayanan
Bagaimana cara kita untuk tetap berada dalam semangat pelayanan? Pakai prinsip sederhana ini:
“Dimana air kelihatan mendidih, di situlah letak titk api yang terpusat. Letakkan diri anda persis pada titik api dan di atas api, maka anda akan mendidih”
























