A-44

Pilih Siapa? Pilih Mega or SBY or JK? Gereja tidak bisa mengatakan siapa yang harus dipilih karena menyangkut hak bebas orang dan pelatihan kepada kecerdasan individu dan tanggung jawab. Setiap calon Presiden ini, menurut paparan visinya, telah membuat pilihan bukanlah di antara yang jelek dan jahat, sebab kesemuanya punya kelebihan dan memusatkan diri kepada “pengentasan kemiskinan” sebagai tema umum mereka. Dan ini pertanda baik!

Gereja tidak seharusnya menganjurkan pemilihan calon presiden berdasarkan keagamaan, ancaman keagamaan, atau keuntungan keagamaan dalam situasi seperti sekarang ini. Walaupun isu tentang ‘syariah’ yang meluas dan dilabelkan pada apa saja, termasuk produk keputusan Pemerintah dan DPR atau DPRD. Ini menimbulkan kekesalan hati di antara mereka yang minoritas. Sampai hari ini masih saja banyak pihak yang secara terang-terangan memiliki tujuan agama yang menunggangi perjalanan bangsa. Padahal, kita jadi kerdil jika berpikir bahwa persoalan bangsa akan selesai jka negara ini diubah menjadi negara agama! Bangsa ini juga tidak akan menjadi lebih baik jika simbol keagamaan ditonjol-tonjolkan. Kebesaran bangsa ini selama hayat masih di kandung badan, bukanlah berasal dari berapa prosentase orang beragamanya, tetapi berdasarkan karakter harmonis bangsa dan kedamaian antar suku bangsa dan penganut agamanya.

Yesus pernah berkata bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja, melainkan juga dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah! Ini adalah penggambaran bahwa memang susah untuk manusia memilih di antara perut dan keyakinan agama. Keyakinan agama akan mudah disingkirkan dan diabaikan jika orang sudah sampai kepada masalah perut.

Ini bukan bohong? pergilah ke penjara-penjara yang ada di seluruh Indonesia! Carilah jika ada seorang penjahat kakap dan amatiran yang adalah seorang ateis! Tidak akan ada! Yang ada adalah para penjahat yang beragama Kristen, Islam, Hindu dan Budha, atau aliran kepercayaan. semua penjahat itu beragama! Orang telah memilih menjadi jahat karena ada kaitannya dengan perut.

Suatu kali misionaris pergi menginjil naik pesawat kecil masuk ke pedalaman. Setelah berulang kali melemparkan makanan lalu barulah mengumpulkan orang. Kali itu mereka memutuskan untuk tidak melemparkan makanan di tanah lapang. Ternyata tidak ada yang datang. Ketika kepala suku di tanya mengapa tidak ada yang datang, jawabannya mudah saja, “No bread, no haleluya!”

Sekarang negeri ini butuh perbaikan ekonomi! Butuh orang-orang yang benar-benar komit untuk mengentaskan kemiskinan. Ini yang harusnya menjadi dasar pengamatan kita kepada setiap calon presiden dan wakil. Saya tidak mengatakan ini otomatis mengarah kepada SBY dan Boediono! Yang harus dicermati bukanlah orangnya saja, tetapi juga rencana-rencana mereka untuk mengentaskan kemiskinan.

Isu terbesar yang harus diselesaikan bangsa ini bukanlah berapa banyak gereja dan mesjid harus berdiri? Yang harus diselesaikan adalah sejumlah penduduk Indonesia kekurangan gizi, makanan, pengangguran, dsb.Ini tugas berat, tetapi inilah sejatinya pekerjaan para penyelenggara negara. Alkitab pernah mengungkapkan tentang impian Allah bahwa “kita tidak lagi punya orang miskin di antara kita!”

Fokus alasan pemilihan harus berpusat pada kepentingan orang banyak, kepentingan kebangsaan, kepentingan praktis pemulihan bangsa, dan bukan kepentingan agama atau kelompok.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share This Post