Aya aya wae! Itu kata orang Sunda! Pernyataan Andi Malarangeng bahwa ‘belum saatnya orang Makasar jadi Presiden’ apapun konteksnya, telah dinilai tidak bijaksana dan naif. Sekalipun ia mengucapkannya untuk menangkis SMS gelap yang berisi pernyataan agar orang Makasar memilih putra daerah mereka, tetaplah tidak etis pernyataan tersebut. Seharusnya Andi tidak terlalu reaktif dengan berbagai SMS gelap, tokh memang di arus bawah banyak yang tidak terkendali termasuk dari kalangan partai Demokrat sendiri.
Apa yang diucapkan Andi sama saja dengan menunjukkan bahwa SBY memang mudah terusik dan terganggu dengan omongan orang. But That’s not supposed to be the way a president react!. Pemimpin harus bersedia disalah tanggapi yang penting ia menjalankan prinsip yang membela kepentingan orang banyak. Tim Suksesi juga tidak usah berandai-andai bahwa semua orang akan memilih SBY sebagai presiden. Dengan demikian Tim bisa bekerja dengan tenang dan tetap santun.
Jika saya adalah orang Makasar, sekalipun saya tidak memilih JK, saya juga pasti akan tersinggung. Pencitraan akibat pernyataanAndi Malarangeng dapat membahayakan citra SBY sendiri. Jika SBY tidak membelikan klarifikasi, berarti SBY setuju dengan yang dinyatakan Andi. Tapi bukankah sangat naif jika orang Jawa selalu menjadi ukuran pertama untuk menjadi presiden. Itu jelas melanggar UUD ’45. DI luar kelaziman seorang juru bicara menyatakan posisi terbuka yang sangat merugikan SBY tersebut.
Bukan hanya itu, bagi sebagian orang, pernyataan Andi malarangeng dapat dikatakan sebagai pengukuhan terhadap keunggulan suku Jawa baik dalam bentuk jumlah dan sebagainya. Ini tidak seharusnya terjadi dalam konteks Bineka Tunggal Ika.
Sangat disesalkan semakin dekat dengan D-day pemilihan, justru terasa kampanye makin terasa kasar dan terang-terangan.
























