Amir Sjarifoeddin dilahirkan sebagai muslim tetapi melalui pendidikannya di Belanda ia berkenalan dengan Injil Kristus kemudian ia menjadi seorang pengikut Kristus. Figur Amir Sjarifoeddin ‘dipulihkan’ kembali melalui sebuah buku yang baru saja diterbitkan setelah pada tahun 1984 Pemerintah melarang buku dengan isi yang sama diterbitkan dan dibaca masyarakat. Buku berjudul “Amir Sjarifoeddin: Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia” yang dituliskan oleh Frederiek Djara Wellem.
Dalam pembukaan buku tersebut, dituliskan sambutan keluarga besar Amir Sjarifoeddin dengan mengutip Roma 9:15,16. Ia bukan seorang pendeta, tetapi bagaimana ia mengajarkan istrinya tentang kerohanian, tekun membaca Alkitab, sampai-sampai ia ingin belajar bahasa Yunani. Menurut istrinya, dalam renungan-renungan maupun kotbah yang pernah dibawakannya, Amir Continue Reading…






















