ANNOUNCEMENT (7)
AoG CWS KGP MINISTRIES (3)
ARTICLES (585)
BERITA DUKA (12)
BUSINESS & MANAGEMENT (50)
CellGroup (9)
CONTEMPORARY THEOLOGICAL ISSUES (21)
GiCC (4)
Joshua-Caleb's Ministry (1)
LIVING WATER (37)
MARTYRS' STORIES (1)
Mission (18)
PASTOR's NOTE (25)
PRAISE AND WORSHIP (20)
SERMON OUTLINE (2)
Social (8)
Sunday School (61)
Women's Ministry (5)
Youth CLUB (51)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
21 Jan, 2010
ARTICLES
posted by Pdt. Budi Setiawan, M.Div
Ketika SBY disebut sebagai “menebar pesona” oleh Megawati – mulanya banyak yang tertawa karena darimana Megawati mendapatkan istilah ‘tebar pesona’ tersebut. Apakah itu benar-benar hasil amatannya ataukah karena ada yang berbisik dan memberikan istilah itu kepadanya tidak tahu juga. Istilah tersebut menjadi populer dan menjadi semacam stigma setiap kali kita berhadapan dengan berbagai isu yang beredar di sekitar presiden SBY. Memang sudah terlanjur kalimat itu keluar dan menjadi bahasa populer. Ada yang ditangkap oleh orang, yaitu bahwa presiden SBY sangat mementingkan pesona atau citra dirinya. Walaupun tidak salah, tetapi jelas para pemimpin tahu bahwa pesona atau citra bukanlah poin penting dalam kepemimpinan. Karakter, ketegasan, keberanian, kejelasan – itulah kepemimpinan di masa krisis yang sangat dibutuhkan. Pemimpin dikalahkan dengan cara melabelkan padanya apa yang tidak sepatutnya.
Jadi ungkapan ‘tebar pesona’ memang menohok langsung kepada ‘jantung’ penggambaran diri seseorang. Segala sesuatu yang kemudian ditampilkan oleh media tentang reaksi presiden baik saat ia marah. ketika mendengar kabar burung, ketika menghadapi persoalan dan pertentangan, akhirnya diukur dari berapa poin ditambahkan dan dikurangkan kepada ‘tebar pesona’ tersebut. Niatnya mungkin lebih jelas untuk memerangkap orang kepada skema negatif tentang Presiden SBY. Bagaimanapun, seorang Megawati telah mengetahui salah satu sisi ‘lemah’ Presiden SBY – yaitu SBY cenderung dapat disibukkan melalui gangguan terhadap citranya. Pelajaran ini sangat penting bagi kita para pemimpin di berbagai sektor kemasyarakatan. Jangan membeberkan rahasia gangguan anda dengan cara menunjukkan apa-apa yang mengesalkan anda. Jangan biarkan orang mendapatkan ‘kunci’ untuk menyerang anda.
Berdasarkan itulah maka mulai mengalir beberapa saran untuk Presiden SBY. Karena beberapa reaksi yang ditunjukkan presiden SBY sebenarnya terlihat terlalu gamblang dan sangat terbaca, yang membuat lawan politiknya memanfaatkan untuk ‘mengganggunya. Yang terbaru adalah reaksinya atas berita tidak benar tentang Sri Mulyani akan diganti. Sekalipun dengan alasan bahwa hal itu dapat mengganggu persepsi pasar, Presidem jelas terpancing untuk menanggapi langsung berita tabloistik tersebut. Mungkin hanya sedikit orang yang pernah menyaksikan jawaban-jawaban Sri Mulyani di Pansus akan terlintas pikiran bahwa Sri Mulyani sebaiknya diganti. Sri Mulyani diakui sebagai seorang Menteri Keuangan yang baik sehingga prestasi kenaikan Devisa Negara tergolong hebat dan ekonomi bertambah kuat.
Sebenarnya akan lebih bagus untuk tampilan kepresidenan kalau juru bicara yang menyampaikan. Menikmati dukungan langsung dari masa yang setuju dengan sikap anda kadang-kadang menjadi tipuan kepemimpinan, sebab anda membeberkan diri anda dan memperlihatkan kelemahan anda sekaligus.
Untuk kepentingan citra seorang Presiden sebaiknya secara efektif menyampaikan sesuatu yang terutama bersifat reaksi diri pribadi – melalui Juru Bicara adalah jalan terbaik. Memang kita tidak tahu batasan pekerjaan seorang Juru Bicara Presiden. Tetapi pemanfaatan Juru Bicara Presiden memiliki keuntungannya sangat banyak. Di antaranya adalah soal persepsi yang dibentuk akibat mengetahui secara tidak langsung reaksi Presiden atas sebuah peristiwa. Presiden melalui Juru Bicaranya akan membuat emosi tidak bisa terbaca dan terukur oleh orang lain. Seorang pemimpin yang kelihatan mudah terganggu oleh sesuatu hanyalah sedang memberi ‘makanan’ kepada keinginan tidak baik orang-orang yang tidak menyukainya.
Presiden kelihatan ’sangat’ reaktif terhadap apa-apa yang dianggapnya mengganggu padahal itu adalah bagian dari proses keterbukaan atau demokrasi maka terkesan Presiden beraksi kepada gangguan-gangguan kecil. Berbagai komentar atas reaksi presiden justri dapat merugikan Presiden nantinya. Ada jutaan suara sumbang tentang kita yang jika diijinkan Tuhan telinga kita mendengarnya maka kita bisa tidak tahan. Di belakang layar, di balik tembok istana di ruang rapat Presiden dan kabinetnya, di dapur-dapur istana dan rumah pribadi Presiden, di balik gerakan menghormat kepada presiden, di balik sikap diam orang menghormati presiden, dsb. selalu saja ada suara sumbang yang disembunyikan akibat ketidak puasan. Tetapi itulah realita yang tidak perli dirisaukan. Kita tidak dapat menyenangkan semua pihak – hanya impian saja!
Apa yang tidak bisa dikerjakan TUHAN? Tidak ada? ada! Yaitu Tuhan sendiri tidak bisa menyenangkan semua orang. Jadi kita harus siap jika ada orang tidak setuju dan tidak menyenangi kita. Yang penting tetap fokus, bukankah bukti nyata masih menjadi panglimadari kekuatan pilihan orang sempai hari ini, karya nyata masih menjadi ukuran bagi kita. Semudah rakyat diubah pilihannya karena janji-janji, semudah itu juga rakyat diyakinkan melalui kenyataan bahwa koruptor ditangkap, ekonomi menguat, harga-harga terkendali, gaji meningkat, keamanan lebih terjamin, kebebasan masih baik, dsb.
Copyright © AoG CWS Kelapa Gading