C-91

Usianya baru 23 tahun saat ia diduga menembak mati seorangtentara Amerika di Arkansas di tempat rekrutting calon anggota militer. Ia juga melukai seorang lainnya. Alasannya sangat sederhana, yaitu bahwa karena tentara Amerika memusuhi dunia Islam maka ia pantas membunuh tentara Amerika. Ia adalah pria kelahiran Amerika, pada usia 13 tahun ia berubah agama menjadi agama Islam lalu tahun 206 mengganti nama dari Caslor Bledsoe menjadi Abdulhakim Mujahid Muhammad.

Ia pernah mengunjungi Yaman di mana ia mengaku bahwa ia belajar jihad dari seorang tokoh Islam. Ia ditangkap di Yaman karena masuk dengan pasport Somalia. Di penjara itulah ia belajar jihad. Sejak saat itu pikirannya menjadi sangat berbeda. Apa yang dilakukannya berbeda jauh dari apa yang diterapkan oleh sebagian terbesar umat Islam di dunia.

Amerika sedang mengawasi kecenderungan orang berkulit hitam yang masuk penjara dan berubah agama lalu diindoktrinasi oleh pemimpin agama radikal lalu melakukan tindakan terorisme. Munculnya sejumlah rencana terorisme yang dilakukan oleh home-grown teroris adalah suatu mimpi buruk. Amerika akhirnya harus memilih untuk mengawasi dan memperketat adanya aliran-aliran radikal di dalam negeri. Jika tidak maka akan terulang kembali kejadian-kejadian bahkan yang lebih mengerikan.

Randall Todd Royer, seorang keturunan Amerika yang berubah agama menjadi islam, dituduh berperan dalam memimpin ‘Virginia Jihad Network’ di tahun 2004, sebuah group Islam radikal yang melatih serangan-serangan di dalam Amerika. Para trainer yang pernah di latih di Pakistan tahun 1999 dan 2000 dengan group teroris Lashkar-e-Taiba yang diyakini bertanggung jawab pada serangan di Mumbai yang menewaskan 200 orang. Royer adalah satu di antara 4 orang Amerika yang berubah agama menjadi Islam yang kemudian ditangkap karena memiliki koneksi dengan Virginia Jihad Network.

Kelompok laion juga pernah melakukan persiapan serangan kepada orang-orang Yahudi Amerika dan sasaran-sasaran pemerintah di sekitar Los Angeles tahun 2005 rencana tersebut digagalkan oleh aparat hukum setempat.

Kelompok-kelompok Advokasi Muslim mengatakan bahwa para radikal itu mempraktekkan iman yang salah dan kelompok itu hanyaah minoritas dari Muslim Amerika. “Itu adalah bentuk Islam yang konyol,” kata Kamal Nawash, presiden dari Free Muslim Coalition. Nawash mengatakan bahwa beberapa pemeluk baru agama, terutama mereka yang pernah di penjara, menjalankanversi agama yang sangat ekstrim dan memeluk agama dengan disertai sejumlah keluhan-keluhan pribadi dan politik.

Gejala untuk mengambil bentuk ‘indigeneous terrorist‘ atau ‘homegrown terrorist‘ adalah kecenderungan di dunia seiring dengan makin mengecilnya peran pemimpin tunggal – lalu yang ada adalah sejumlah orang-orang baru terinspirasi dan membentuk kelompok-kelompok lokal. Motif, target dan inspirasinya sama. Hal ini mestinya diwaspadai oleh Pemerintah Indonesia dengan tidak hanya berpaku pada data dan informasi luar negeri untuk melawan terorisme.

Di Indonesia, sebaiknya pengawasan atas ajaran-ajaran agama yang memprovokasi menguatnya ‘rasa diperlakukan tidak adil’ mesti dilakukan secara efektif. Semakin hari akan semakin sulit mengawasi orang-orang mengingat teknologi sudah sangat maju dan sulit dikendalikan dan sentralisasi. Kita tidak akan tahu apa yang ada dalam pikiran para pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah kita apakah mereka mengadopsi pandangan radikal lalu kemudian diam-diam merencanakan melukai tuan rumah karena dianggap sebagai target? Para pilot, pekerja di perusahaan-perusahaan, pekerja Pertamina, Suster dan dokter di rumah sakit, sungguh sangat mengerikan.

Memang untuk melawan terorisme orang harus berpikir tentang ‘segala kemungkinan’. Dapatkah anda membayangkan jika ada seorang perwira polisi atau militer yang mengadopsi pandangan radikal agama? Atau orang-orang yang memiliki akses pada pelayanan publik langsung misalnya PDAM, PLN, Pertamina, Industri senjata, dsb. yang kemudian dengan mudah membawa bencana yang sangat merusak, bukankah sangat mengerikan akibatnya. Tetapi begitulah nalar negatif kaum teroris. Mereka tidak merasa bahwa korban perlu dikasihani.

Lihatlah bagaimana ketiga pelaku teroris di Bali dalam komentar-komentar mereka mengenai orang-orang yang tidak berdosa yang menjadi korban, mereka berbicara sambil tertawa seolah-olah bukan masalah dan tidak ada rasa bersalah. Mungkin ide teman saya tentang bagaimana terorisme harus ditangani, alaupun kedengarannya nyeleneh tetapi ada kebenarannya. Begini, ia berkata bahwa tentu saja para teroris itu tertawa karena 200 nyawa hanya perlu dibayar dengan 3. Akan berbeda pikiran mereka jika 200 harus dibayar dengan 200 dari anggota keluarga mereka juga.

Mungkin jika kita masih ingat film yang diperankan oleh Steven Seagal yang menghadapi kekerasan dengan kekerasan, atau Dark Justice yang menjalankan keadilan di luar pengadilan, kelihatannya memang kurang baik, tetapi untuk kasus-kasus tertentu kelihatannya bisa efektif. Adanya hukum mata ganti mata dan gigi ganti gigi, baik juga dipertimbangkan untuk kaum teroris. Mereka patut untuk dikenakan hukum yang sama. Misalkan saja teroris menewaskan 10 orang, maka 10 orang dari anggota keluarga turut diledakkan juga. Jika mereka menewaskan 23 orang, maka dari keluarganya juga diambil 23 dan diledakkan. Kalau saja hukum ini diterapkan, mungkin tertawanya Amrozi cs akan hilang.

Kelihatannya kejam, tetapi mungkin efektif. Mereka yang menebar teror tidak pernah merasakan teror seperti apa. Jika mereka mengetahui akibatnya yang luar biasa juga terhadap keluarga mereka, ketika orang yang tidak bersalah ikut dilibatkan didalamnya barulah orang berpikir panjang untuk berbuat.

Hukum memiliki satu kelemahan, yaitu bahwa ia hanya bisa mewakili kebenaran versus kejahatan, tetapi lepas dari kepentingan para korban. Teroris tanpa ragu-ragu melibatkan orang yang tidak bersalah sebagai korban, tetapi hukum tidak bisa melibatkan orang yang tidak bersalah sebagai orang bersalah. Mungkin itu sebabnya di masa lalu pernah diterapkan mata ganti mata dan gigi ganti gigi.Ada hal-hal yang memang sulit ditanggulangi kecuali dengan membuat pelaku turut merasakan. Betapapun tidak etisnya penembakan misterius pada jaman pak Harto, anda tahu bahwa kita pernah merasakan selama beberapa bulan keamanan begitu baik, jumlah preman di jalan-jalan yang biasa memeras dan memalak orang drastis berkurang, nyaris bersih.

Kebanyakan kasus dapat berakhir dengan dihentikannya pelaku kejahatan, tetapi untuk terorisme, ia benar-benar extra ordinary crime yang memerlukan jalur penanganan yang khusus.

Kita memang harus lebih waspada, sewaktu merekrut orang bekerja di rumah tangga kita, di kantor kita, di pusat-pusat pelayanan pemerintah yang sifatnya langsung kepada masyarakat baik rumah sakit, air minum, listrik, bahan bakar, transportasi masa, dsb. Sebab saat ini kita sungguh-sungguh tidak tahu apa yang ada di balik senyum orang-orang yang baru kita kenal.

What will our future be? May the Lord help us!


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share This Post