jesus

Setiap orang pernah mengalami situasi yang umum dibilang keadaan “terdesak”. Sebagian orang mencuri bukan karena senang melakukannya, tetapi keadaan terdesaklah yang membuat ia melakukannya. Belum lama ini di media televisi saya menyaksikan diungkapnya sebuah kasus dimana orang sampai tega menukar bayinya dengan sejumlah uang karena tak mampu menghadapi betapa mengerikannya kemiskinan yang dia alami.

Seorang saudara kami, seorang ibu yang karena terdesak menitipkan anak-anaknya di beberapa tempat yang berbeda, lalu pergi mencari uang, dan kadang kembali tapi lebih sering juga tidak kembali.

Terlilit hutang dan gali lubang tutup lubang, bukan hal yang jarang kita temui, bahkan di lingkungan kerja, dari waktu ke waktu seorang pimpinan dihadapkan kepada pertempuran di dalam hati, antara memilih menerapkan peraturan atau mengikuti naluri bebasnya yang berbelas kasihan.

Pada kolom ini saya pernah menulis tentang “Seorang Penyembah dan Pemberiannya”, tentang suatu tantangan untuk berani percaya akan suatu kebenaran bahwa ada hubungan yang erat antara pertumbuhan atau kemajuan pelayanan penyembahan dan bagaimana sikap dan tindakan nyata seorang penyembah tentang memberi kepada sesama.

Dari pandangan lain yang jarang, yang mungkin tak terpikirkan, karena seolah ini adalah gambaran iman yang lemah, kita bisa berpikir sebaliknya, dimana situasi kita mungkin adalah orang yang sedang membutuhkan pertolongan orang lain. Para penyembah juga manusia biasa yang sangat mungkin berada di tempat terdesak, dalam bentuk kesulitannya yang berbeda-beda. Mungkin tidak terlihat oleh pendeta di gereja dan tidak diketahui oleh teman-teman sepelayanan, tetapi kenyataannya kita sedang menjerit untuk bertahan. Kita berada di perbatasan antara yang hitam dan yang putih, yang dingin dan yang panas, atau ibarat berada di tempat perbatasan tebing yang rata dan jurang yang curam.

Penyembahan kita berada dimana ketika kita berada dalam keadaan terdesak ? secara fisik, kita tetap berada di tempat kita seperti biasa. Ya, kita akan selalu menjaga untuk tampil dengan baik. Kita belum sampai perlu lari kemana-mana.

Pada waktu keadaan tidak bersahabat, hati-lah yang mengakuinya. Beberapa kemungkinan bisa terjadi dalam kehidupan penyembahan kita kepada Tuhan.

Penyembahan kita tetap berada di tempatnya yang baik, dimana kita masih menghidupkannya setiap hari sebagai pertahanan yang paling ampuh untuk batin kita. Keadaan idealnya demikian. Haleluya puji Tuhan, kita semua juga mengalami dan melewatinya.

Penyembahan kita berada di tempat peristirahatan, dimana kita sulit sekali menyembah, memuji, bersyukur, tetapi kita dapat paksakan pada waktu kita mau melakukannya, namun timbul tenggelam tidak menentu.

Penyembahan kita berada di tempat kematian. Suara kita tetap lantang bernyanyi, tangan dan jari-jari kita tetap bermain dengan terampil seperti biasanya. Tetapi keadaan yang kita alami membuat penyembahan itu sendiri seperti berada di tempat kematian. Yang kita lakukan sebagai penyembahan serasa tak memberi dampak apapun terhadap hati dan pikiran kita.

Adakah orang yang terlalu rohani sehingga bisa berkata, “itu tak mungkin terjadi pada saya”. Keadaan terdesak yang mematikan rasa, melumpuhkan kemampuan untuk melakukan yang benar, bisa menimpa siapapun, termasuk para penyembah dan pelayan-pelayan Tuhan.

Saya teringat suatu ayat yang dikenal oleh kita semua,

”Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang, Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya.” (Mazmur 23:2-3)

Hidup ini dapat dikatakan memiliki pengalaman yang lengkap, pada waktu kita pernah berada di tanah yang gersang, di rumput yang hijau, dan di perbatasan antara keduanya.

Kebaikan Tuhan baru benar-benar kita hargai dan kita syukuri, pada waktu kita terbelalak menyadari bahwa kita pernah berada di jalan yang salah, jalan yang benar, dan juga perbatasan di antara keduanya.

Berapa banyak kali di alkitab mengisahkan hal-hal yang dialami oleh “orang-orang baik”, yakni bayang-bayang maut, lembah kekelaman, bahaya, gua singa, penjara, kelaparan, siksaan, penghinaan, penghianatan, dan kita bisa tambahkan dengan apa yang pernah atau bahkan sedang kita alami.

Bahaya keadaan terdesak, bisa membuat kita membuat keputusan yang salah dan membuahkan kerugian yang besar.

Salah satu senjata yang kita punya sebagai penyembah adalah, kita terlatih untuk tetap menghidupkan nyanyian, percaya dengan yang kita nyanyikan dan nyanyikan apa saja yang kita percaya.

Di waktu yang paling krisis, yang paling mendesak, yang paling berat dan hampir mematikan, bagaimana kita bisa tetap memilih untuk melakukan yang benar ? Pada waktunya itu terjadi, bukan waktunya untuk kita mundur, tetapi justru  waktunya kita maju dan semakin naik kelas. Ya, oleh kasih karuniaNya kita pasti bisa, karena bukankah semua adalah hanya kasih karunia Tuhan yang berlaku dalam keselamatan yang sedang kita jalani.Entah mengapa saya ingin membicarakan ini, tetapi dalam pengalaman berada di dalam pelayanan bersama tim penyembahan, saya melihat anggota worship team tidak luput dari keadaan yang demikian. Sebagian semakin maju, sebagian berguguran.

Berbagi pengalaman pahit, tanpa perlu mengkisahkan pengalaman itu sendiri, ada satu kalimat yang sangat berkuasa yang dapat membawa ketenangan dan kemantapan bagi saya, yaitu “Aku mengenal siapa Bapaku.”

Setiap kali saya menghadapi persimpangan yang mengerikan, atau keadaan mematikan yang harus dilawan bagai berenang di kolam arus dan ingin berhasil berenang melawan arusnya, saya hanya bisa mengatakan “Aku mengenal siapa Bapaku, maka aku lakukan ini, bukan yang itu.” Sambil melakukannya, tentunya tidak ada tawa, melainkan diliputi ketegangan dan perjuangan hanya bersama keyakinan diri. Tetapi pembuktian “Aku mengenal siapa Bapaku” di waktu kemudian selalu datang menyusul tepat pada waktunya yang paling manis, yang tidak pernah bisa lebih manis dan lebih indah dari waktunya.

Nyanyian Tuhan adalah Gembalaku, nyanyian itu benar-benar hidup. Ingat selalu, sebagai seorang pemuji dan penyembah kita diberi talenta yang khusus untuk menghidupkan nyanyian-nyanyian.

Karena “Aku mengenal siapa Bapaku” di tengah keadaan terdesak, maka rumput hijaulah yang menjadi tempat aku dibaringkan, dan bukan di tanah gersang. Karena “Aku mengenal siapa Bapaku” dan kita memilih melakukan yang benar, maka ke air yang tenanglah Dia membimbing kita. Ia adalah Bapa yang meredakan setiap gelombang dan badai.

Melalui tulisan ini, ada sesuatu yang Tuhan taruh dalam hati saya, pertama saya diingatkan kembali tentang kebenaran bahwa lahirnya seorang penyembah yang sejati selalu melewati suatu proses. Kedua, saya diingatkan bahwa para penyembah dan pelayan Tuhan dimanapun berada juga digoncang kehidupannya, selalu ada pilihan untuk maju atau berguguran. Keadaan pahit bukan saja yang saya saksikan di televisi, bukan saja orang-orang miskin diluar sana yang sampai harus menukar bayinya dengan sejumlah uang, bukan yang terlilit hutang di perusahaan, tetapi sangat mungkin di antara kita para pelayanNya.

Kalau memang hari-hari ini keadaan “terdesak” menjadi bagian pengalaman hidup kita, baiklah kita menerima lalu meneliti dimana kaki kita berdiri saat ini, kita sedang berada di perbatasan. Biarlah kita dapat mengatakan “AKU MENGENAL SIAPA BAPAKU dan aku memilih jalan ini, bukan jalan itu”.

Nyanyian-nyanyian yang kita nyanyikan di dalam pelayanan kita di hadapan jemaat, kita hidupkan dalam keseharian kita dan membangkitkan iman kita, sehingga kita bisa berkata: “Aku mengenal siapa Bapaku, maka yang aku lakukan tetaplah yang benar.” Pada waktunya yang paling manis, kita akan penuh dengan ucapan syukur menikmati kemenangan dan kasih karuniaNya.

Tuhan Yesus memberkati.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)
Share This Post