ANNOUNCEMENT (7)
AoG CWS KGP MINISTRIES (3)
ARTICLES (585)
BERITA DUKA (12)
BUSINESS & MANAGEMENT (50)
CellGroup (9)
CONTEMPORARY THEOLOGICAL ISSUES (21)
GiCC (4)
Joshua-Caleb's Ministry (1)
LIVING WATER (37)
MARTYRS' STORIES (1)
Mission (18)
PASTOR's NOTE (25)
PRAISE AND WORSHIP (20)
SERMON OUTLINE (2)
Social (8)
Sunday School (61)
Women's Ministry (5)
Youth CLUB (51)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
31 Jan, 2010
ARTICLES
posted by Pdt. Budi Setiawan, M.Div

Ia lahir tgl. 9 april 1990. Ia dikenal juga sebagai Paldaen Dorje dari desa Ratanapuri, Kabupaten Bara di Nepal. Ia dipercayai sekarang menjadi “the next Buddha” atau “Budhha Boy” karena meditasinya yang disertai puasa selama 10 bulan yang membuat para ilmuwan terheran-heran. Mereka yang mempercayai ‘re-inkarnasi’ meyakini bahwa ia adalah titisan Budha, sekalipun Ram sendiri menyangkal penjulukan tersebut. Ia pernah mengakui bahwa ia hanyalah titisan seorang pendeta Tibet sehingga ia kemudian mengambil nama Palden Dorje.
Ia memulai meditasi yang disertai puasa pada tanggal 16 mei 2005. Selama berbulan-bulan ia bermeditasi. Kemudian ia diam-diam pindah ke masuk ke hutan untuk bermeditasi sebab “tidak ada damai”, terlalu banyak orang yang ingin menyaksikannya dan mengganggu meditasinya.
Berbagai pihak termasuk Discovery Channel meneliti bersama para ilmuan lain baik dari negaranya maupun dari negara-negara lain, semua menggeleng-gelengkan kepala tidak dapat menjawab bagaimana seorang anak berusia muda sepertinya punya kemampuan untuk tidak makan dan minum selama berbulan-bulan dalam suatu semedi khusus. Sains menyatakan bahwa orang mengalami gangguan ginjal setelah 4 hari tanpa pasokan air, dalam beberapa minggu dapat dikatakan orang pasti meninggal. Tapi ini tidak terjadi kepada Ram Bahadur Bomjon.

(Ram di awal puasanya memasuki 6 bulan)
Ia menarik perhatian ribuan wisatawan dan perhatian media. Ia muncul kembali di Nepal tgl. 26 Desember 2006, tetapi pergi lagi 8 Maret 2007. Polisi yang mencarinya untuk memastikan baha ia masih hidup menjumpainya sedang bermeditasi di sebuah lubang. Pada 10 November 2008, Bomjon muncul kembali di Ratanapuri dan berbicara dengan sekelompok pemujanya di hutan yang sulit didatangi. Ia diketahui ber’kotbah’ dua kali kepada ribuan pengikutnya yang waktu itu mendatanginya sejumlah 400 ribu orang – ia berbicara tentang perdamaian bangsanya dan dunia. Ia mengajarkan tentang re-inkarnasi. Ia mengatakan bahwa dunia saat ini dikuasai oleh 3 hal: keserakahan, kemarahan dan kecemburuan. Itulah sumber masalah dunia.
J. Ocean Dennie, seorang digital journalist, menurunkan sebuah laporannya tgl. 25 Desember 2009 yang disertai beberapa foto terbaru tentang Ram.

Selain keunikan yang masih menjadi tanda tanya banyak orang, mungkin anda ingin mengetahui isi satu dari dua kotbah yang pernah diucapkannya dan dari sini anda bisa mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, dan bagaimana anda bersikap terhadap fenomena ini:
“Pembunuhan, pelanggaran, keserakahan, kemarahan dan pencobaan telah membuat dunia manusia menjadi sebuah tempat keputus asaan. Badai yang hebat telah turun atas dunia manusia, hal ini telah menggiring dunia kepada kehancuran. Hanya ada satu jalan untuk menyelamatkan dunia dan itulah melalui ‘dharma’. Ketika seseorang tidak berjalan pada jalan kebenaran dari kebiasaan rohani, dunia yang putus asa akan pasti dihancurkan.
jadi, ikutilah jalan spiritualitas dan tebarkan pesan ini kepada sesamamu. Jangan pernah menaruh ganjalan, kemarahan dan ketidak percayaan pada jalan misi meditasi saya. Saya hanyalah menunjukkan jalan, kamu harus mencarinya sendiri. Akan jadi apa saya, apa yang akan saya lakukan, hari-hari di depan akan menyatakannya. Keselamatan mnausia, keselamatan semua mahluk hidup, dan kedamaian dunia adalah tujuanku dan jalanku. “Namo Budhha sangaya, Namo Budhha sangaya, namo sangaya.”
Saya berkontemplasi untuk upaya melepaskan dunia yang kacau ini dari samudera emosi, untuk melepaskan kita dari kemarahan dan pencobaan, tanpa bergeser sedikitpun dari jalan itu, saya menyangkali keterikatan saya pada hidup saya dan rumah saya selamanya. Saya bekerja untuk menyelamatkan semua mahluk hidup. Tetapi dalam dunia yang tidak disiplin ini, praktek hidup saya telah diturunkan menjadi sekedar hiburan saja … dst.”
Pada kotbahnya yang kedua, inilah yang dikatakannya, silahkan menelitinya:
“Doa-doa Kunchu Suma – pesan perdamaian bagi semua mahluk hidup dan kesejahteraan kerohanian umat manusia. Salam kepaa semua pencari rohani, orang kudusm, agama-agama dan semua organisasi. Setelah saya diperintahkan oleh roh untuk menyelamatkan dan mengangkat umat manusia dan semua ciptaan dunia, saya telah dikuasai oleh janji untuk menyelamatkan dunia yang fana dan sementara ini dari lautan emosi danmembebaskan dunia dari dosa keduniawian.
Saya telah berkontemplasi dengan sepenuhnya (Dhyana) untuk membebaskan umat manusia dan semua mahluk hidup. Semua mahluk fana ingin lepas dari penderitaan dan kesakitan dunia. tetapi dengan kelahiran, mereka tidak diperlengkapi sebagai manusia yang mencari dan mengejar kerohanian dan terbebas. Mereka juga berdoa kepada Allah (sumber/roh). Mereka bahagia ada dalam dunia ini. Manusia menciptakan tradisi yang akan menghancurka seluruh kemanusiaan dan mahluk hidup. Dalam nama agama, pembunuhan, kejahatan, kemarahan, kecemburuan dan perpecahan dikumandangkan.
Hanya ada satu sumber: roh memiliki satu bentuk, jiwa manusia adalah sama, hanya tradisi dan kebiasan yang berbeda. Selalu merangkul jalan kemurahan, belas kasihan, menolak kekerasan, kedamaian; inilah pesan yang saya ingin bawa bagi masyarakat kita dan bagi semua penduduk dunia. Spiritualitas sesungguhnya, roh manusia, akan selalu mencari kebenaran. Mencari ebenaran adalah jalan yang menguntungkan bagi manusia. Disamping keberadaan ribuan jalan, kekacauan, keserakahan, keterikatan, kemarahan, dan kecemburuan telah memenjarakan masyarakat kita dan manusia.
Dalam jalan ini dunia sedang menuju kehancuran. Jadi, ini adalah waktunya bahwa penduduk dunia harus berpikir tentang ini. Manusia seharusnya tidak lupa kewajiban akhir rohani dan masyarakat mereka. Lepaskan diri dari pembunuhan, kekerasan, keserakahan, keterikatan dan sifat jahat. Sirami air mata kemurahan dan belas kasihan; tunjukkan kepada dunia jalan keselamatan. Setelah kita mati adalah sangat sulit untuk kembali kepada kehidupan manusia.
Setiap orang berpikir bahwa kita tidak ber-reinkarnasi setelah kematian. Tidak, kita menerima kehidupan manusiawi bergantung dari kebajikan kita. Kita menuai buah atas apa yang kita kerjakan. Sekarang dunia dikuasai oleh 3 bentuk. Bentuk pertama adalah keserakahan; betuk kedua adalah kemarahan; bentuk ketiga adalah keterikatan dan kecemburuan yang menguasai dunia ini. Kiranya semua tradisi agama berubah. Semua umat beragama memerlukan kebenaran langsung, dan dengan menggali kebenaran, belas kasihan dan penolakkan kepada kekerasan, dan kedamaian dalam hati mereka, mereka perlu memperinah dunia dengan Samyak Sambodhi. Salam kepada bentuk pencerahan tertinggi dan kiranya damai beserta setiap orang!
Copyright © AoG CWS Kelapa Gading