Dengan ramainya pembicaraan pasca terungkapnya praktek plagiarisme yang dilakukan seorang guru besar Universitas Parahiyangan – Bandung, mengagetkan banyak pihak. Banyak yang tidak menyangka bahwa seorang guru besar ‘dapat’ melakukan hal seperti itu. Kasus David di Singapura yang dirasakan ‘belum berakhir’ pun dulu konon turut diwarnai dengan bumbu motif ‘plagiat’ seorang dosen terhadap hasil karya muridnya. Guru membunuh murid untuk mendapatkan hasil karyanya masih kerap terjadi. Usahawan membuat tiruan atau malah benar-benar memalsukan juga bukannya sedikit. Praktek plagiat di kalangan anak-anak namanya ‘nyontek’, dsb. Motif nyontek di kalangan anak-anak bisa karena kemalasan, bisa juga karena ketakutan. Tetapi di kalangan dewasa hampir bisa dipastikan bahwa plagiarisme muncul dengan motif keserakahan.
Kini seorang guru besar yang langsung diberhentikan oleh pihak Universitas, adalah pelakunya. Dunia pendidikan menarik nafas panjang! Seperti sebuah kata ajimat yang menghentikan semua kegiatan secara serentak, sebelum kemudian berjalan biasa lagi. Perhatian kita terfokus pada hal ini – plagiarisme adalah tindakan yang memalukan. Tindakan ‘pemberhentian’ adalah tindakan tepat untuk menyampaikan pesan vulgar bahwa hal tersebut tidak pernah bisa ditolerir. Hal itu telah mencoreng kredibilitas Universitas terkenal di Bandung tersebut.
Robert Vaux dala artikelnya berjudul reasons Why Plagiarism Is Bad menyebut 5 alasan yang harus dipegang teguh mengapa seorang yang memiliki integritas tidak boleh melakukan plagiarisme:
1. Plagiarisme adalah ketidak jujuran
2. Plagiarisme mensabotase proses belajar
3. Plagiarisme membahayakan reputasi pelaku dengan potensi kehancuran yang hebat
4. Plagiarisme biasanya terkena konsekuensi hukum dalam hal copyright
5. Seorang yang plagiat, cenderung melakukan hal serupa setelah mereka lulus.
Model plagiarisme di kalangan rohaniwan ya pasti ada kaitannya dengan tugas-tugas seorang rohaniwan. Tugas rohaniwan Kristen yang ada kaitannya dengan publik (bukan pelayanan perorangan) biasanya mencakup tugas penulisan, kotbah dan ceramah. Untuk penulisan, plagiarisme mudah ditelusuri. Tetapi untuk kotbah atau ceramah, disini plagiarisme cenderung ‘berlimpah-limpah.’ Disinyalir banyak mereka yang mengaku pengkotbah tidak pernah menyebut sumber-sumber yang dipakainya sewaktu mengutip sebuah ungkapan, memakai bahan kotbah orang lain, memakai sumber-sumber yang bukan hasil temuannya.
Tuntutan untuk tidak plagiat semakin rumit ditelusuri di kalangan rrohaniwan jika itu menyangkut kotbah yang tidak memiliki outline tertulis yang dibagikan kepada jemaat pendengar. Maka persepsi yang dibangun, terutama di kalangan karismatik adalah bahwa begitu seorang pendeta berkotbah maka kotbahnya pastilah berasal dari Tuhan. Jarang sekali di Indonesia secara terang-terangan seorang pendengar mendatangi seorang pendeta dan mengatakan bahwa kotbahnya ‘sama dengan’ kotbah pendeta lain, Bahkan secara sukarela orang mengatakan bahwa ‘roh’-nya sama dengan pengkotbah lainnya, padahal kemungkinan besar ia plagiat.
Padahal barangkali alasan utama seorang pengkotbah tidak mau menyebutkan sumbernya adalah karena:
1. Jika disebutkan nanti terkesan bahan itu bukan berasal dari hasil pergumulannya dalam doa – takut terkesan banyak baca tetapi sedikit berdoa
2. Jika disebutkan nanti citranya yang rusak karena dianggap kurang original dan kurang ‘pintar’ dan berkuranglah wibawanya – berkuranglah undangannya
3. Jika disebutkan nanti terkesan kurang rohani karena yang penting adalah Alkitab
Kalau boleh dinilai, alasan nomer dua adalah alasan utama di kalangan rohaniwan – yang menyuburkan praktek plagiarisme.
Lebih runyam lagi jika seseorang yang jelas mendapat inspirasi dari tulisan tertentu, dipengaruhi oleh sebuah buku atau beberapa sumber, tetapi masih ‘tega-teganya’ mengaku bahwa Tuhan berbicara kepadanya. Jika dikaji sungguh-sungguh mungkin plagiarisme adalah jenis kejahatan paling umum yang menyebabkan seorang rohaniwan tidak bisa masuk ke sorga. Mulai dari pengkotbah ‘eceran’ sampai kepada pengkotbah ‘elegan’ kerap melakukan plagiarisme dan menutupinya dengan alasan rohaniah.
Hasil adaptasi bahan tertentu yang kemudian dipaparkan kembai dalam bentuk lain saja butuh pengakuan jujur sumber-sumber pendukungnya. Sayangnya belum terbangun kebiasaan di kalangan karismatik untuk mengakui sumber kotbah dan pernyataan-pernyataannya. Kebanyakan masihada dalam eforia ‘menjadi kepala dan bukan ekor’. Prinsip mendasar mengapa plagiarisme harus ditolak karena adanya ‘penipuan publik’ bahwa seolah-olah itu adalah hasil temuannya. Jika seorang rohaniwan memberikan kesan bahwa ungkapan-ungkapan itu berasal darinya, tanpa menunjukkan bahwa sebenarnya si ‘A’ lah yang mengutarakannya, maka jelas ia membohongi publik.
Praktek ‘tidak mau menyebutkan’ sumber demi keuntungan reputasi adalah sebuah pembohongan dan lahir dari karakter yang ‘tidak bisa dipercaya’. Jika seorang hamba Tuhan atau pengkotbah secara sengaja dalam tulisan maupun dalam kotbahnya, membiasakan diri tidak menyebutkan sumber yang dipakainya, he’she is doomed to failure in his/her character.
Nazarene University dalam websitenya pernah menurunkan artikel yang memuat kisah tentang seorang pendeta yang terbukti plagiat dalam kotbahnya. Kejadian tersebut dimuat juga pada berita New York Times, Juli 2006. Pendeta Jackson yang namanya disebut sebagai pelakunya menjelaskan perilakunya:
“It’s a pattern you get into,” he said, explaining he was struggling at the time with issues of self-esteem. “It happens bit by bit. You end up using more and more. You’re using a little material maybe initially, and then using more. It’s really not rational.”
Masalah ‘kurang percaya diri’ adalah alasan yang membuat orang trenyuh. Tetapi benarkan demikian? Barangkali keserakahan lebih menjadi motifnya bagi mereka yang menikmati hasil mudah dari plagiarisme.
Saran yang bisa diberikan di sini adalah marilah membiasakan diri mencantumkan sumber, atau hasil adaptasi, atau memberikan tanda-tanda khusus bahwa anda telah memakai sumber-sumber tertentu, mengungkap dengan jujur dari mana saudara berpandangan demikian.
Tetapi jika itu adalah pandangan original anda, bersikaplah seperti Yesus yang berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu ….”

























[...] diduga membunuh puluhan orang dan menjual lemak mereka ke pembeli sebagai bahan membuat kosmetika.Plagiarisme di Kalangan RohaniwanGuru membunuh murid untuk mendapatkan hasil karyanya masih kerap terjadi. Usahawan membuat tiruan [...]