Pasca perang saudara yang membunuh sekitar 900.000 orang di Rwanda antara Suku Hutu dan Tutsi tahun 1994, berkumpullah sebagian kaum ibu dari kedua suku yang bertikai untuk memperbaiki masa depan mereka. Cara yang mereka pakai adalah dengan secara bersama-sama mereka membuat keranjang-keranjang yang dijual untuk mempropagandakan perdamaian di antara kedua suku. Begitu terkenalnya usaha tersebut sehingga harga keranjang buatan dari ibu-ibu itu ada yang bisa mencapai ratusan dolar sebuahnya karena dibuat oleh dua pasang tangan yang dulunya bertikai – sehingga disebut “keranjang perdamaian.”Umumnya berharga di bawah 50 dolar sebuahnya.
Misi perdamaian tidak selalu dengan cara diplomasi saja, tetapi juga dengan gerakan moral dari para wanita kedua suku. Kisah perjuangan mereka merajut kembali persaudaraan akibat peristiwa ‘genocide’ terutama yang korbannya lebih banyak suku Tutsi sebagai minoritas – telah mengesankan dunia.

Kisah ini dituliskan dalam buku Success Built to Last yang dituliskan oleh John McCain.

























Thanks Pak Budi..sebagai Ibu jadi malu..hehe..tetapi tulisan ini sungguh menginsiprasi utk lbh berusaha menciptakan “keranjang perdamaian”..kl Ibu2 sdh sadar akan kesalahannya pasti mendatangkan kebaikan dan manfaat yg membangun aplg buat Bapak2..hehe..Gb