A-1

Keterbukaan kesaksiannya mengagetkan banyak pihak bahwa Yousef telah menjadi pemasok informasi gerakan Hamas kepada pihak Israel selama kurang lebih 10 tahun. Putra Sheik Hassan Yousef yang masih berada di penjara Israel ini telah berpindah agama dari Islam menjadi Kristen sejak tahun 2007, alasan kepindahan agamanya konsisten dengan alasan pengakuan mengapa ia bersedia memasok informasi bagi pihak yang dulunya diperangi.

Ia dikenal dengan julukan spionase “Green Prince” karena pentingnya Yousef dalam rantai mata-mata Israel terhadap tubuh organisasi Hamas. Keterangannya bernilai seribu jam ulasan para ahli top, ujar salah seorang penulis Israel.

Pasokan informasinya telah menyelamatkan ratusan orang dari akibat bom bunuh diri dan menghindarikan banyak orang dari belasan rencana bom bunuh diri, penangkapan bom beberapa pelaku bom bunuh diri, penangkapan sejumlah tokoh-tokoh Hamas. Bahkan ia berhasil menghindarkan juga rencana pembunuhan ayahnya oleh agen-agen Israel. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya berhutang nyawa kepada Yousef.

Ayah Yousef telah menuliskan surat dari penjara di Israel bahwa ia tidak lagi mengakui Yousef sebagai anaknya. Ia telah mengetahui untuk sekian waktu bahwa Yousef membangun kontak dengan orang-orang Israel. Sebenarnya ia mengirim anaknya untuk menjadi mata-mata bagi Hamas tentang kegiatan Israel. Tetapi tidak disangka anaknya berubah.

Musab Yousef mengaku bahwa ia sulit menerima praktek perjuangan Hamas yang menurutnya mempunyai target rakyat sipil. Sedangkan Israel berperang karena tuntutan hukumnya. Bagi Mousab Yousef Israel lebih menghormati rakyat sipil daripada Hamas. Mungkin perbandingannya adalah seorang keturunan Arab dapat berjalan bebas di Israel sana, sedangkan seorang Yahudi akan dibunuh ketika berjalan di daerah Arab.

Ia bersaksi dengan kalimat,

“Kemudian, saya menjadi seorang penganut Kristen, selama saat itu pada bulan-bulan pertama Imenjadi mata-mata Israel). Saya diyakinkan dengan prinsip untuk encintai musuh-musuh anda. Dan saya melhat bahwa musuh saya, yang saya kira musuh saya, mereka memiliki moralitas, memiliki tanggung jawab daripada rakyat saya sendiri.”

Minggu depan sejarah hidupnya yang dituangkan dalam sebuah buku, “”will blow your minds away, it is going to be like a tsunami in the Middle East.” Penulis memoar Yousef mengatakan bahwa Yousef begitu mengagumkan, karena ia bertindak bukan atas dasar uang melainkan keyakinan.

Captain Loai (seorang Israel penerima informasi dari Yousef – penghubung) makes no secret of his admiration for his former source (Yousef).

“The amazing thing is that none of his actions were done for money,” he says. “He did things he believed in. He wanted to save lives. His grasp of intelligence matters was just as good as ours – the ideas, the insights. One insight of his was worth 1,000 hours of thought by top experts.”

Apa sebenarnya yang sedang terjadi di dunia ini? Yousef mengatakan bahwa rakyatnya tidak tahu yang sebenarnya. Ia ingin membuka mata banyak orang tentang mengapa persoalan Israel Palestina sulit berakhir. Perundingan tidak akan menghasilkan banyak selama pihak-pihak yang berunding ternyata tidak memiliki moralitas atas kemanusiaan.

Ia berkata,

“Hamas tidak dapat berdamai dengan orang-orang Israel. Karena hal itu bertentangan dengan apa yang Allah mereka katakan kepada mereka. Adalah tidak mungkin berdamai dengan orang yang tidak berTuhan, hanya sekedar gencatan senjata, dan saya sangat mengenal mereka.  Kepemimpinan Hamas bertanggung jawab atas pembunuhan orang-orang Palestina, bukan Israel yang harus bertanggung jawab.  Orang-orang Palestina, mereka tidak ragu-ragu membunuh orang-orang di mesjid atau melempar orang dari lantai 15 atau 17 sebuah gedung sebagaimana mereka lakukan dalam coup Gaza. Orang-orang Israel tidak pernah melakukan tindakan seperti itu. Saya katakan dengan sungguh-sungguh bahwa orang-orang Israel peduli tentang orang-orang Palestinajauh lebih dari pada yang dilakukan para pemimpin Hamas dan Fatah.”

Kesaksian ini banyak di bahas secara terbuka, termasuk CNN beberapa hari yang lalu menayangkanberbagai dialog soal pernyataan Yousef. Dari sini kita belajar bahwa pada dasarnya jika seseorang berani memeriksa ulang pendirian-pendiriannya, maka Tuhan akan menuntunnya menuju kepada kebenaran.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share This Post